Bagi masyarakat Tiongkok, Xinjiang adalah daerah yang sangat jauh di barat dan hanya sedikit penduduk Beijing dan kota besar lainnya yang pernah menjejakkan kaki di tempat ini. Ibaratnya, Xinjiang seperti Papua, sangat jauh dari jangkauan orang Jakarta.
Suasana di 'the most underdeveloped region' Tiongkok ini tak melulu diwarnai soal kemiskinan, kerusuhan etnis, dan kabar duka. Paling tidak, ini terlihat di Urumqi Economic and Technological Develonment Zone (UETD, Toutunhe District), Xinjiang Uyghur Autonomous Region.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Area industri ini adalah hasil penggabungan pada 2011 dari dua wilayah yang sudah eksis sebelumnya. UETD akan terus dikembangkan hingga seluas 480 km persegi. Nilai output dari zona ini mencapai 100 miliar Yuan pada 2013.
Memang disengaja oleh Presiden Xi Jinping, Xinjiang menjadi wilayah inti dari Silk Road Economic Belt. Jalur kereta cepat yang menghubungkan Xinjiang dengan Beijing juga bakal rampung, rencananya, pada akhir tahun ini. Bila kereta cepat beroperasi, tak lagi butuh 30 jam untuk melaju dari Beijing ke Xinjiang, namun hanya 16 jam.
Kembali ke soal UETD Zone, Industri Automobile Shanghai Volkswagen Xinjiang memproduksi mobil VW Santana pertama kalinya di sini. Pada 2014, USA George Heinz Aircraft Manufacturing Co Ltd menandatangani investasi 1,68 miliar Yuan untuk perakitan pesawat CH Series. Ada pula industri alat berat hingga industri makanan dan minuman yang berproduksi di sini.
Industri kincir angin pembangkit listrik kelas dunia, yakni Goldwind, juga berbasis di UETD Xinjiang. Goldwind mempunya lebih dari 20 GW kapasitas tenaga angin, dengan instalasi turbin yang menyebar di 14 negara meliputi enam benua. 15 Ribu turbin angin kini beroperasi.
Menjauh dari Zona UETD, ada perusahaan besar yang memproduksi perangkat listrik kelas berat berupa transformer, kabel tegangan tinggi, dan transmisi energi. Perusahaan ini bernama TBEA, berbasis di Changji, Xinjiang. Produknya digunakan untuk menunjang energi panas bumi skala besar, energi nuklir, hydropower, hingga konstruksi kereta cepat.
TBEA mempekerjakan sekitar 21 ribu karyawan. TBEA juga telah menjalin kerjasama dengan Indonesia.
"Di Indonesia, kami juga mempunyai nilai export lebih dari USD 14 juta, produknya perangkat transformer dan kabel," kata General Manager TBEA Co Ltd di kantornya.
Produk energi terbarukan juga mereka produksi, seperti perangkat sel surya. Mereka juga membikin bahan alumunium berkategori 'high purity', digunakan untuk perkara aeronautika hingga alat utama sistem pertahanan. Barang dagangan mereka dibeli Jepang, negara-negara Asia Tenggara, hingga Eropa.
Pada Selasa (4/8/2015), detikcom dan rombongan pewarta Indonesia dan Malaysia yang lain juga berkesempatan melewati sebagian kecil dari Jalur Sutera legendaris, tepatnya di titik Highway G30. Kami melaju menuju Kota Turpan. Kini, Jalur Sutera sudah mulus dengan aspal yang siap melayani truk-truk berat pengangkut komoditi.
Suasana warisan Jalur Sutera masih terbayang, seperti gurun bertebing gersang di kanan kiri. Dahulu kala, jalur ini dilalui oleh saudagar-saudagar berkuda dan berunta yang melintas dari Eropa ke Asia. Titik yang kami lewati ini juga menghubungkan Khazakshstan, Xinjiang Tiongkok, dan bila terus ke timur bisa sampai Xi'an Tiongkok.
Kincir angin pembangkit tenaga listrik dari Goldwind juga di tempatkan di padang gersang berangin ini, yakni di Dabancheng Wind Power Station.
Kekuatan angin di wilayah ini membuat dua jalur jalan tol harus dipisah sejauh sekitar 10 meter. Karena dahulu sebelum dipisah, banyak kecelakaan terjadi karena angin terlalu kuat menghempas kendaraan yang melintas.
Bila semakin menjauh dari Ibu Kota Xinjiang, Urumqi, maka suasana juga berubah. Hamparan padang gersang, bukit-bukit coklat berbatu, dan hawa yang kelewat terik bisa kita jumpai di wilayah selatan. Namun bila ke utara, ke arah Pegunungan Altai, udara lebih sejuk dan salju bakal turun pada musimnya. Pada musim panas saat inipun, puncak gunung Altai dan Tian Shan juga diselimuti salju.
Industri berat hingga pertanian dan perkebunan terus berjalan di Xinjiang. Memang belum sempurna, masih ada saja kawasan miskin, pengemis di jalanan, dan permasalahan sejenis yang biasa ada di setiap kota. Namun secara umum, Xinjiang sebagai daerah otonomi di garis terluar Tiongkok telah diperhatikan pemerintahnya. Ancaman terorisme juga terus dilawan di daerah ini.
Xinjiang terkenal dengan wilayah yang didominasi etnis Uyghur di Tiongkok. Uyghur merupakan etnis yang memeluk agama Islam. Bahkan etnis-etnis selain Uyghur yang mendiami kawasan ini juga banyak yang beragama Islam. (dnu/gah)











































