Menteri Sektoral Lebih Superior Daripada Menko, PDIP: Potong Saja!

Menteri Sektoral Lebih Superior Daripada Menko, PDIP: Potong Saja!

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2015 13:53 WIB
Menteri Sektoral Lebih Superior Daripada Menko, PDIP: Potong Saja!
Foto: Setpres
Jakarta - Eks Koordinator Pokja Tim Transisi Arif Satria menyebut ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam merombak kabinet, salah satunya kedekatan personal menteri dengan Presiden Joko Widodo. Ia menilai, ada menteri sektoral yang memiliki power lebih besar ketimbang menteri koordinatornya.

"Problemnya yang di bawah lebih kuat daripada menteri koordinatornya. Misalnya, Menteri BUMN (Rini Soemarno) kuat mana sama Menko Perekonomian (Sofyan Djalil), Menteri Susi dan Menko Maritim (Indroyono Soesilo) lebih kuat mana. Lalu, Kepala Staf Presiden (Luhut Binsar Pandjaitan) lebih kuat daripada Menko Polhukam (Tedjo Edhy Purdjianto)," ujar Arif.

Hal ini dikemukakannya dalam diskusi Perspektif Indonesia bertajuk 'Reshuffle Kabinet Sudah Net' di Restoran Gado-gado Boplo, Jl Gereja Theresia, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2015). Tentu saja menurut pria yang juga Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (FEMA IPB) ini, hal tersebut sudah menyalahi aturan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perlu reshuffle supaya menko punya akses lebih kuat daripada menteri-menteri sektoralnya. Saya katakan aktor lebih penting daripada peran pemerintahannya. Marwah kabinet jelas presiden lebih kuat, menko lebih kuat daripada menteri sektoral," sambungnya.

Dalam kesempatan yang sama, politisi PDIP Andreas Hugo Pereira dengan tegas meminta agar Presiden Jokowi tidak ragu-ragu mengganti menteri sektoral yang menyalahi sistem birokrasi. Jangan sampai hubungan interpersonal yang baik dengan Jokowi mengganggu sistem pemerintahan.

"Aktor yang mengganggu sistem pemerintahan, cut! Potong saja. Siapa yang merasa dirinya memanfaatkan kedekatan dengan top leader yang kemudian merusak sistem, potong karena ke depan ini akan mengganggu," tegas Andreas.

Andreas menyebut salah satu gangguan yang mulai terlihat adalah berantakannya sistem koordinasi yang mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan ekonomi. Sehingga rakyat kecil menanggung akibatnya.

"Persoalan sekarang lebih pada ekonomi. Persoalannya pada bidang ekonomi mikro, bagaimana pemerintah kabinet mengurusi persoalan kesejahteraan rakyat. Ini penting karena pemerintahan Presiden Jokowi-JK menitikberatkan pada pembangunan infrastruktur jalan raya. Ini bagus untuk membangun bangsa ini ke depan. Tapi harus diimbangi juga, rakyat tidak bisa diminta menunggu jembatan selesai sementara perut kosong," urai Andreas. (aws/rna)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads