Serbuan Hipermarket (3)
Pasar Tradisional Harus Berbenah
Kamis, 24 Feb 2005 11:31 WIB
Jakarta - Kenyamanan berbelanja salah satu mengapa kini banyak orang memilih berbelanja di pasar modern atau hipermarket. Ada baiknya pasar tradisional juga ikut berbenah diri.Suasana nyaman memang hampir tidak akan pernah kita temui saat berbelanja di pasar tradisional Indonesia. Bau, pengap dan becek, begitulah pasar tradisional kita. Belum lagi banyak tangan jahil yang siap mengutil dompet tatkala si pemilik lengah.Berbeda jika kita memasuki pasar modern atau sering disebut sebagai hipermarket yang kini bertaburan di Jakarta. Tidak ada becek dan bau lagi di sana. Penyejuk udara membuat kita semakin merasa nyaman. Belum lagi banyaknya tenaga pengamanan yang membuat pengunjung merasa aman. Pokoknya pembeli benar-benar merasa dimanjakan.Membuat pasar tradisional senyaman pasar modern memang tidak mungkin. Namun itu bukan berarti pasar tersebut harus dibiarkan kotor dan terkesan jorok. Kalau dibiarkan begitu, maka bersaingan dengan keberadaan sejumlah ritel hanya mimpi."Jadi jangan hanya menyalahkan hipermarket atau pemilik ritel lainnya jika pembeli lari. Para pedagang tradisional juga harus bisa berbenah diri. Prinsipnya, siapa yang bisa memberikan pelayanan terbaik dia yang menang," kata Manager Humas, PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), Didit Setiadi. PT SAT adalah pengelola minimarket dengan lebel Alfamart.Menyinggung soal kehadiran sejumlah hipermarket di Jakarta, Didit mengaku, kelompoknya sama sekali tidak terpengaruh. Jumlah pendapatan di gerai-gerai Alfamart tetap seperti biasa. Bahkan pada tahun 2005 ini, Alfamart menarget menjadi operator minimarket terbesar di Indonesia dengan memiliki 1.400 gerai.Menurutnya, hipermarket dan minimarket memiliki pangsa pasar yang berbeda. Orang tidak akan datang ke hipermarket jika hanya untuk membeli sebungkus rokok. Jadi, kata Didit, pihaknya sama sekali tidak melihat kehadiran hipermarket sebagai sebuah ancaman."Sebenarnya kekhawatiran akan terjadi kanibalisme tidak sepenuhnya benar. Semua itu bisa diatasi jika semua pihak mau duduk bersama untuk menemukan jalan yang terbaik.Sementara itu, terkait soal aksi bersih-bersih, PD Pasar Haya berniat merombak total 19 pasar kumuh. Pasar-pasar tersebut baal disulap menjadi semi permanen. Untuk mewujdudkan niatannya tersebut PD Pasar Jaya telah mengalokasikan anggaran Rp240 miliar. Dari 19 pasar yang akan dirombak, 15 merupakan eks pasar inpres yang diserahkan ke PD Pasar Jaya tahun 2000.Dirut PD Pasar Jaya, Prabowo Soenirman, kepada wartawan pekan silam menegaskan, pasar-pasar yang dirombak itu tetap akan menjadi pasar tradisional, namun dengan kualitas lebih baik. "Pasar-pasar itu tidak akan dijadikan hypermarket. Untuk pembangunannya pun kami lakukan sendiri, tidak memakai pihak ketiga," kata Prabowo.Pasar-pasar yang dirombak itu antara lain, Pasar Kawi-kawi, Pondok Bambu, Tugu, Ciplak, Enjo, Cijantung, Cibubur, Ciracas, Jembatan Besi, Jelambar, Warung Buncit, Lenteng Agung, Kelapa Gading, dan Kayu Jati. PD Pasar Jaya saat ini mengelola 151 pasar di DKI Jakata, di mana 60 pasar merupakan eks pasar inpres.
(djo/)











































