Din mengawali pidatonya dengan mengenang 2 periode kepemimpinannya di Muhammadiyah. Lalu dia membahas soal Muhammadiyah sering disebut sebagai ormas Islam terbesar kedua dari sisi jumlah anggota. Menurut Din, soal tersebut hanya masalah klaim.
"Antara Muhammadiyah dan NU saling bersaing. Dulu tahun '70-an, anggota Muhammadiyah 20 juta, NU tidak mau kalah, 30 juta. Tahun '80an, Muhammadiyah 30 juta, NU sebut 40 juta. Kemarin saya baca ketum NU yang baru terpilih lagi bilang NU 100 juta, Muhammadiyah disebut 35 juta. Kemudian dikatakan tidak mudah mengatur demokrasi di organisasi yang besar. Ya tidak apa," kata Din yang disambut tawa dan tepuk tangan muktamirin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pidato Din disampaikan usai serah terima jabatan di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Sulsel, Jumat (7/8/20215).
Din mengatakan, bagaimanapun, Muhammadiyah sudah menunjukkan muktamar yang demokratis dan tetap bermarwah. Demokrasi yang ditunjukkan Muhammadiyah mengacu pada nilai-nilai etika Islam.
"Demokrasi Muhammadiyah bukanlah demokrasi yang bablas. Demokrasi di Muhammadiyah bertumpu dan mengacu pada nilai-nilai etika Islam," ujar Din yang lagi-lagi disambut tepuk tangan muktamirin.
Di akhir pidatonya, Din kembali melempar sindiran. Din menyarankan agar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang tuan rumah muktamar berikutnya dipilih yang memiliki gedung pertemuan besar, seperti PWM Sulsel yang memiliki Balai Sidang Makassar.
"Kalau tidak ada nanti muktamarnya di taruh di alun-alun," ujar Din. Untuk diketahui muktamar NU digelar di alun-alun Jombang.
(tor/erd)










































