Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Sang Sosiolog Pendidik Kader

Muktamar ke-47 Muhammadiyah

Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Sang Sosiolog Pendidik Kader

M Iqbal - detikNews
Kamis, 06 Agu 2015 21:48 WIB
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Sang Sosiolog Pendidik Kader
Foto: Muhammad Iqbal/detikcom
Makassar - Rapat 13 anggota tetap Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memilih Haedar Nashir sebagai ketua umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020. Siapa Haedar Nashir?

Dalam daftar calon tetap anggota PP Muhammadiyah, seperti dikutip Kamis (5/8/2016), Dr. H. Haedar Nashir M.Si lahir di Bandung 25 Februari 1958 (57 tahun). Riwayat pendidikannya dimulai di SD/MI Ciparay Bandung, kemudian Pondok Pesantren Cintawana, Tasikmalaya dan SMA Negeri X Bandung.

Haedar lalu mengambil kuliah di STPMD Yogyakarta. Setelah menamatkan gelar S1, Haedar kembali mengambil kuliah untuk gelar S2 dan S3 yang diraihnya dari Fakultas Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM) bidang Sosiologi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Haedar menjadi anggota Muhammadiyah Cabang Ngampilan, Yogyakarta sejak tahun 1983 dengan nomor baku 545.549. Kegiatan keorganisasiannya di Muhammadiyah sebagai ketua I PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) periode 1983 - 1986 dan Departemen Kader PP Pemuda Muhammadiyah periode 1985 - 1990.

Setelah itu, Haedar masuk di Pimpinan Pusat Muhammadiyah mula-mula sebagai Ketua Badan Pendidikan Kader (BPK) dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah (BPK-PAMM) periode 1985 – 1995 dan 1995 - 2000.

Baca juga Infografis: 13 Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020

Lalu duduk sebagai salah seorang ketua PP Muhammadiyah di bawah ketua umum Din Syamsuddin untuk dua periode tahun 2005-2015. Haedar tidak memiliki catatan pernah duduk di partai politik manapun.

Isteri Haedar adalah Dra Siti Noodjannah M.Si, M.M yang tak lain ketua organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah. Haedar dikenal sebagain penulis yang produktif di kalangan Muhammadiyah. Di antara judul buuk yang ditulisnya 'Muhammadiyah Gerakan Pembaruan', 'Memahami Ideologi Muhammadiyah, 'Islam Syariat', 'Muhammadiyah Abad Kedua' dan lainnya. (bal/bag)


Berita Terkait