Negatif campaign, atau kampanye negatif, ini berbeda dengan black campaign atau kampanye hitam. Suatu kampanye disebut black campaign jika menggunakan isu fiktif untuk menjatuhkan lawan. Bedanya dengan negatif campaign, tujuannya tetap sama untuk menjatuhkan lawan, namun isu-isu yang digunakan adalah fakta yang memang menjadi kelemahan lawan.
Dalam konstestasi pemilihan ketum PP Muhammadiyah, sasaran negatif campaign adalah peraih suara terbanyak Haedar Nashir. Negatif campaign untuk Haedar ini dimainkan oleh para pendukung calon ketum lain.
Sepanjang Kamis (6/8) hari ini, kampanye negatif yang ditujukan untuk melemahkan Haedar, dan sejumlah nama lain, mewarnai forum-forum online para muktamirin, seperti di grup BBM ataupun Whatsapp. Isu yang dilontarkan beragam, mulai dari paham keagamaan seorang calon yang disebut tak sesuai dengan pemahaman Muhammadiyah hingga gelar akademik calon.
"Sudah tradisi ketum-ketum Muhammadiyah haruslah bergelar profesor," demikian bunyi salah satu kampanye negatif. Haedar Nashir sebagai peraih suara terbanyak memang belum menyandang gelar profesor.
Isu-isu negatif ini juga disampaikan ke para anggota PP Muhammadiyah terpilih, sebagai penentu ketum. Tentu saja harapannya agar anggota PP tersebut terpengaruh, dan dalam musyawarah penentuan ketum menolak calon yang tak diinginkan.
Selain soal gelar profesor, isu kampanye negatif untuk Haedar juga terkait dengan posisi istrinya yang kemungkinan besar akan kembali terpilih sebagai ketum PP 'Aisyiyah. "Masa Muhammadiyah dipimpin suami-istri," bunyi kampanye negatif lainnya.
Baca juga: 13 Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020
Salah seorang anggota PP Muhammadiyah terpilih, Abdul Mu'ti, mengakui ramainya kampanye negatif menjelang musyawarah pemilihan ketum. Pesan-pesan yang melemahkan seorang calon juga masuk ke handphone-nya.
"Tidak menyebut nama, tapi memang jelas arahnya ke siapa," ujar Mu'ti menggambarkan pesan yang masuk ke handphonenya. Namun dia enggan menjelaskan siapa sosok yang menjadi sasaran kampanye negatif dalam pesan yang diterimanya.
Mu'ti mengatakan pesan-pesan kampanye negatif yang masuk ke hapenya bukanlah black campaign. Caranya masih halus, buktinya dengan tidak menyebut nama, dan yang dijadikan isu merupakan fakta. Fakta yang dijadikan isu juga bukanlah fakta buruk yang menyerang pribadi.
"Ya masih eleganlah. Saya juga kan jadi korban, dibilang masih terlalu muda lah, apalah," ujarnya.
Mu'ti tak terpengaruh dengan kampanye-kampanye negatif tersebut. Dia juga yakin 12 PP lain tak terpengaruh.
Pukul 20.50 WITA, Kamis (6/8), sudah sekitar 5 menit 13 PP Muhammadiyah rapat menentukan ketum. Akankah mereka terpengaruh kampanye-kampanye negatif? (tor/bag)











































