"Jadi kami sangat bersyukur dengan program keselamatan sekolah ini, sebenarnya kami juga sudah menjalankan program ini kurang lebih 6 tahun. Ini sesungguhnya tinggal kita sinergikan dengan program daerah," ujar Nurdin di Gedung Kemenhub, jalan Medan Merdeka Barat, Jakpus, Selasa (6/8/2015).
Nurdin menjelaskan, di Kabupaten Bantaeng hampir seluruh trotoar untuk para pejalan kaki sudah dihadirkan dan masih beberapa ruas yang belum terselesaikan pembuatan trotoar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, untuk menciptakan keselamatan anak sekolah di jalan, guru serta kepala sekolah diwajibkan datang lebih pagi sebelum siswa datang. "Mereka (guru-guru) menjemput dan menyeberangkan siswa, jadi saat siswa datang ada yang siap menyeberangkan," terang Nurdin.
Selanjutnya, di Bantaeng juga tengah gencar menggarap zona sekolah dengan membuat rambu-rambu dengan warna yang berbeda dengan jalan. Kemudian, khusus di daerah pedesaan, Kabupaten Bantaeng telah membangun angkutan sekolah bagi anak sekolah yang dikelola oleh pihak kecamatan.
"Sumber anggaran angkutan sekolah dari APBD, kita memberikan biaya operasional. Hampir anak-anak sekolah di Bantaeng tidak ada yang tidak sekolah karena persoalan angkutan," ungkapnya.
"Saya bersyukur dirjen perhubungan darat mempunyai program RASS, sehingga semakin membantu program keselamatan anak di Bantaeng," imbuhnya.
Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Djoko Sasono mengatakan dengan adanya program RASS guna mendorong murid dan orang tua murid lebih memilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke sekolah dan pulang sekolah dari rumah hingga sekolah.
"Esensinya untuk memastikan rute yang dilalui anak sekolah selamat. Penerapan RASS di dua kabupaten ini diwujudkan dalam penerapan fasilitas perlengkapan jalan berupa marka jalan, zona selamat sekolah, halte permanen, bus sekolah dan trotoar," jelas Djoko. (tfn/hri)










































