"Secara kuantitatif, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (PP Muhammadiyah) mengelola sebanyak 5.264 sekolah," terang ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah Prof Baedhowi dalam laporannya seperti dikutip detikcom, Kamis (6/8/2015).
Secara rinci, SD ada sebanyak 1.064 sekolah, SMP 1.111 sekolah, SMA 567 sekolah, dan SMK 546 sekolah. Kemudian Madrasah Ibtidaiyah (MI) ada 1.188 sekolah, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 521 sekolah, Madrasah Aliyah (MA) 178 sekolah, dan pondok pesantren sebanyak 89.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan ketua umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif, menyebut gerakan pendidikan Muhammadiyah itu sebagai upaya Muhammadiyah membantu negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945.
"Kalau pemerintah membantu Muhammadiyah atau NU, secara khusus berarti negara membantu dirinya sendiri. Adalah kewajiban konstitusional negara karena negara tidak mampu (memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan Indonesia)," papar Buya Syafii Maarif Rabu (5/8),
Namun sayangnya kata Buya, upaya Muhammadiyah itu tidak banyak diperhatikan pemerintah, terutama dalam pengembangan sekolah atau perguruan tinggi. Padahal, pendidikan yang diberikan Muhammadiyah mencakup semua golongan dan agama.
"Univesitas Muhammadiyah Kupang mahasiswanya 75 persen katolik. Nggak apa, karena kita ingin pencerahan untuk siapa saja nggak melihat lagi agamanya," kata Buya.
"Saya pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, saya cintai persyarikatan ini karena mencintai Islam dan bangsa ini," tutupnya.
(bal/slh)











































