"Endak bagaimana-bagaimana, jangan tanya ke saya, saya tidak punya komentar apa-apa. Saya kan bukan peserta muktamar. Yang punya hak bersuara kan peserta muktamar. Sudah begitu ya sudah, selesai," kata Gus Solah kepada wartawan saat dimintai tanggapan atas terpilihnya kembali Said Aqil Siradj sebagai Ketum PBNU periode 2015-2020, Kamis (6/8/2015).
Sikapnya yang enggan berkomentar bukan tanpa alasan. Pengasuh Ponpes Tebu Ireng ini tak mau membuat suasana semakin keruh yang berpotensi membuat NU benar-benar terpecah. Namun demikian, dia mengaku legowo meski gagal terpilih menjadi Ketum PBNU. "Saya tidak pengin jadi Ketua Umum PBNU kok, saya ini diminta. Ya monggo sekarang kalau saya dianggap tidak tepat ya tidak masalah," tuturnya.
Pada kesempatan itu, Gus Solah juga menyatakan keberatannya atas tudingan sejumlah pihak bahwa dirinya menjadi dalang perpecahan di NU. Forum lintas wilayah oleh 24 PWNU yang akan membuat muktamar tandingan di Ponpes Tebu Ireng, Rabu (5/8) malam bukan atas gagasannya. Adik kandung Gus Dur ini mengaku tak tahu akan adanya forum tersebut dan justru berupaya mencegahnya.
"Silakan PWNU dan PCNU itu melakukan apa yang menurut mereka hak mereka. Saya tidak ikut di dalamnya, saya tidak terlibat apa-apa disitu. Ini kan antara para PWNU dan PCNU yang menginap disini yang mengikuti muktamar dan tidak puas. Dan saya bukan bagian yang menyebabkan itu. Saya dan pak Hasyim justru mencegah muktamar tandingan disini," ungkapnya.
Sekitar 24 PWNU yang tergabung dalam forum lintas wilayah akan menggelar muktamar tandingan di Ponpes Tebu Ireng, Jombang, Rabu (5/8) malam. Namun, upaya tersebut dibatalkan setelah adanya arahan dari sejumlah ulama, seperti Gus Solah, Hasyim Muzadi, Abdul Malik Madani, dan Afifudin Muhajir.
Dalam pertemuan itu, forum lintas wilayah memutuskan untuk menggugat PBNU periode 2010-2015 ke jalur hukum. Mereka sepakat menyatakan penolakannya atas muktamar yang berlangsung 1-5 Agustus sekaligus berbagai produk yang dihasilkan. Mereka meminta agar PBNU menggelar muktamar ulang paling lambat 3 bulan sejak kemarin. Apabila tidak dikabulkan, mereka mengancam akan menggelar muktamar tandingan.
(erd/erd)











































