Kemenhub Terapkan Program Rute Aman ke Sekolah di Bantaeng dan Tabanan

Kemenhub Terapkan Program Rute Aman ke Sekolah di Bantaeng dan Tabanan

Taufan Noor Ismailian - detikNews
Kamis, 06 Agu 2015 14:03 WIB
Kemenhub Terapkan Program Rute Aman ke Sekolah di Bantaeng dan Tabanan
Foto: MoU Kemenhub dengan Pemkab Bantaeng dan Tabanan
Jakarta - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub menerapkan uji coba program Rute Aman Selamat Sekolah (RASS) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dan Kabupaten Tabanan, Bali. Program ini dilakukan untuk menjaga keselamatan anak sekolah dengan rute yang aman.

Dirjen Perhubungan Darat Djoko Sasono mengatakan dengan adanya program RASS untuk mendorong murid dan orang tua murid lebih memilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan angkutan umum untuk berangkat ke sekolah dan pulang sekolah dari rumah hingga sekolah.

"Esensinya untuk memastikan rute yang dilalui anak sekolah selamat. Penerapan RASS di dua kabupaten ini diwujudkan dalam penerapan fasilitas perlengkapan jalan berupa marka jalan, zona selamat sekolah, halte permanen, bus sekolah dan trotoar," ujar Djoko di Kemenhub, jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (6/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diharapkan dengan adanya RASS guna dapat mengurangi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar serta mengurai kemacetan dan mengurangi polusi di lingkungan sekolah. "Dampak lanjutannya dapat menumbuhkan kesadaran atas pentingnya berperilaku tertib agar selamat di jalan bagi masyarakat disekitar sekolah," terangnya.

Lanjut Djoko, program RASS ini pun membutuhkan keterlibatan di antaranyaΒ  dari sekolah, orang tua, dinas perhubungan, kepolisian, Kementerian Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kementerian Kesehatan.

"Dengan program rute aman ini dapat menciptakan rasa aman kepada orang tua murid, kami akan terus memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Diharapkan murid dapat tiba dengan selamat di sekolah," pungkasnya.

Selanjutnya, Kemenhub memaparkan setiap tahunnya rata-rata 186.300 anak-anak meninggal karena kecelakaan di jalan. Serta di Indonesia, masih banyak ditemukan anak-anak sekolah yang terpaksa harus berjalan jauh, menyeberang jembatan menggunakan tali yang rusak di atas sungai yang deras lantaran lokasi sekolah yang jauh dan kurangnya fasilitas yang memadai.

"Akses jalan di wilayah provinsi, kota atau kabupaten di Indonesia masih banyak yang membuat anak sekolah harus berhadapan dengan lalu lintas kendaraan besar yang sangat tidak ramah anak. Sangat memprihatinkan potret keselamatan sebagian anak Indonesia ke sekolah," jelasnya. (tfn/faj)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads