Mengapa Gus Mus dan KH Abdul Malik Madani sampai menangis?
Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur 'memanas' bahkan beberapa hari sebelum dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Sabtu, 1 Agustus 2015 lalu. Pemantiknya adalah penggunaan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) untuk pemilihan Rois Aam PBNU 2015-2020.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden nyaris baku hantam itu membuat sejumlah kiai sepuh prihatin. Keesokan harinya, Senin (3/8/2015) Gus Mus sampai menangis di sidang pleno untuk menenangkan muktamirin.
Gus Mus terdengar penuh isak dalam menyampaikan sambutannya. Sementara suasana arena sidang hening. Semua muktamirin mendengarkan. Tak hanya menangis, bahkan kiai yang terkenal dengan kerendahan hatinya itu sampai akan mencium kaki muktamirin demi untuk menenangkan suasana.
"Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, Akhlak KH Haysim Asy'ari dan pendahulu kita," pinta Gus Mus kepada muktamirin pada Senin (3/8/3015) lalu. (baca juga: Air Mata Gus Mus di Sidang Pleno Muktamar NU).
Tangisan Gus Mus pun berhasil meredam suasana. Tak lagi gaduh, tahapan demi tahapan muktamar berlangsung dengan teduh. Namun, teduhnya suasana muktamar mendadak berubah pada Rabu (6/8/2015) petang. Ratusan peserta Muktamar NU tiba-tiba meninggalkan arena alun-alun Jombang dan merapat ke Aula Yusuf Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng. Rupanya tak hanya peserta saja yang ada di situ, tetapi dua calon Ketum PBNU yakni KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dan KH Muhammad Adnan.
"Selain saya tadi juga ada Gus Solah dan ada para pendukung Pak Asad (Said Ali) juga. Tapi kalau Pak Asad saya tidak lihat secara langsung. Tadi ada Pak Malik juga," ungkap Adnan saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (5/8/2015).
![]() |
Kubu Gus Solah dan Muhammad Adnan menggelar muktamar tandingan. Adnan yang juga mengikuti forum di Ponpes Tebuireng menyatakan bahwa akan ada upaya gugatan hukum atas pelaksanaan Muktamar NU. Namun Adnan belum bisa memastikan kapan dan ke mana gugatan dilayangkan.
Lagi-lagi situasi ini membuat sejumlah kiai senior prihatin. Katib Aam PBNU (2010-2015), Abdul Malik Madani berusaha mencegah agar tak terjadi muktamar tandingan.
Tak cukup dengan kata-kata, Malik meredam ambisi para muktamirin itu dengan air mata. "Saya minta maaf apabila tidak bisa menyelesaikan persoalan itu (muktamar). Saya memahami kekecewaan yang dirasakan muktamirin. Tapi mari kita kelola kekecewaan itu kita kelola dengan cara yang tidak semakin merunyamkan jamiyah Nahdlatul Ulama," pinta Malik kepada ratusan muktamirin di aula Bachir Akhmad lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Rabu (5/8/2015).
Dalam kesempatan itu, Malik tak mampu menahan air mata kesedihan melihat amburadulnya pelaksanaan Muktamar NU ke 33 di Kabupaten Jombang. Ulama yang resmi melepas jabatannya sebagai Katib Aam pada Rabu sore itu menegaskan muktamar kali ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah. Hal itu juga mencerminkan amburadulnya ormas NU.
"Para PWNU dan PCNU saya sedih karena kita sama-sama menyaksikan muktamar yang sangat menyakitkan hati bahkan memalukan. Dari lubuk hati yang paling dalam saya nyatakan muktamar kali ini muktamar yang paling bermasalah sepanjang sejarah muktamar NU," ungkapnya.
Akankah tangisan dua kiai itu bisa menyatukan NU?
(erd/try)











































