Anggota 13 PP Muhamamdiyah Prof Dadang Kahmad, menyebut jika keduanya memimpin Muhammadiyah dan Aisyiyah, maka mengulang sejarah saat organisasi Islam itu lahir seabad silam di Yogyakarta.
"Nggak apa-apa, zaman Ahmad Dahlan begitu. Kiai Dahlan ketua Muhammadiyah, Nyai Walidahnya ketua Aisyiyah. Berarti sudah 100 tahun terulang lagi peristiwa (kepemimpinan suami isteri di Muhammadiyah-Aisyiyah -red)," kata Dadang Kahmad di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Kamis (6/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berarti secara fair, obyektif, dipilih muktamirin (peserta Muktamar -red). Itu di luar kehendak mereka berdua," ujar Direktur Pascasarajana UIN Bandung itu.
Dadang juga menuturkan, budaya di Muhammadiyah tidak pernah menjadikan jabatan atau kedudukan sebagai rebutan atau ambisi, namun kesediaan memimpin Muhammadiyah adalah pengabdian pada agama.
"Kalau sudah begini, di Muhammadiyah tidak ada yang ngotot (menginginkan kedudukan -red)," tegasnya.
Sebagaimana diketahui, baik Muhammadiyah maupun Aisyiyah menerapkan sistem formatur untuk menentukan ketua umum, yaitu memilih sebanyak 13 anggota tetap PP Muhammadiyah. Nanti 13 nama itu yang bermusyawarah menentukan ketua umum.
Muktamar Muhammadiyah telah menghasilkan 13 anggota terpilih dengan suara terbanyak Haedar Nashir yang berpeluang besar dipilih sebagai ketua umum. Sementara Muktamar Aisyiyah baru menyelesaikan pemungutan suara dan akan dihitung malam nanti. Calon incumbent Siti Noordjanah Djohantini, diperkirakan terpilih kembali.
(bal/erd)











































