Mereka adalah, Nindi Aprilia (24) dan Rasmini (26). Keduanya bertugas sebagai Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Siak, di Riau sejak awal tahun 2014.
Status keduanya masih sebagai pegawai honorer. Satu wanita lainnya, Apriani (22) tahun 2015 ini baru lulus dari calon seleksi PNS.
Tapi saat berkunjung ke 'markas' mereka, detikcom hanya bisa bertemu Nindi dan Rasmini. Sedangkan Apriani lagi sedang tidak bertugas karena sakit.
Nindi dan Rasmini, boleh dibilang wanita tangguh. Keduanya bagian dari 140 personel Damkar Pemkab Siak di bawah naungan Bupati Syamsuar. Dari jumlah itu, ketiga wanita itu bagian dari tim pemadam kebakaran hutan di Riau.
![]() |
Wilayah Siak, setiap tahunnya juga tidak terlepas dari kawasan yang terbakar di saat musim kemarau. Seperti siang itu, Nindi dan Rasmini menerima laporan dari timnya, ada kebakaran lahan di Kecamatan Dayun, Kab Siak.
Dua wanita ini, lantas bergegas mengenakan baju anti panas yang tersedia. Sepatu boots, kacamata, topi pengaman, segera dipakai untuk berkumpul pada tim lainnya. Dengan menggunakan mobil pikup, keduanya duduk di belakang untuk menuju titik api.
Tiba di lokasi, kedua wanita ini langsung cekatan. Tim lantas berbagi, ada yang memanggul mesin pompa air mencari titik air. Sedangkan kedua wanita ini berjalan sambil menarik selang air. Dia berada di garda depan.
Mesin pompa air dihidupkan, Nindi dan Rasmini saling menopang selang air untuk disemprotkan ke arah titik api yang membakar perkebunan sawit milik warga.
Semburan air ke kawasan yang terbakar, lantas menimbulkan debu di bawah terik matahari. Asap mengepung di sana-sini. Jika anda tidak terbiasa, bisa jadi akan mengalami sesak nafas di titik lokasi kebakaran lahan.
"Kalau kebakarannya luas dan banyak asap, kita silih berganti untuk memadamkan. Setelah satu jam, kita keluar dari lokasi, untuk mencari udara yang tidak berdebu. Karena memang sekalipun pakai masker, tetap sesak karena kepungan asap, debu, dan panasnya bara api," cerita Nindi.
Begitulah keseharian duo wanita yang masing lajang ini. Mereka tak kenal lelah dalam penyelamatan lingkungan hidup dari kebakaran hutan di Riau.
Untuk menuju titik kebakaran hutan, tim bisa berjalan kaki hingga berkilo-kilo meter jauhnya ke dalam semak belukar. Mereka pun silih berganti menenteng selang air untuk dibawa ke dalam kawasan hutan.
Ini belum lagi tantangan, bila tiba di lokasi ternyata air tidak ada. Sehingga tim kadang harus menggali parit ala kadarnya di kawasan gambut, agar air bisa dikumpulkan. Untuk mengumpulkan air, bisa berjam-jam lamanya.
"Susahnya kalau memadamkan kesediaan air terbatas. Kita cari parit ke sana kemari, kadang airnya sikit. Satu sisi kebakaran hutan terus merembet. Kadang tim harus membuat blok, agar sebaran tidak meluas sampai ke pemukiman penduduk," tambah Rasmini.
Pemadaman hutan dengan pemadaman rumah penduduk yang terbakar penanganannya memang berbeda. Jika melakukan pemadaman rumah, misalnya, pihak Damkar tentunya telah menyediakan air di dalam mobil Damkar. Sedangkan di kawasan hutan, mobil Damkar yang berisikan air, tidak bisa masuk ke lokasi.
Itu sebabnya, ketika memadamkan kawasan hutan yang terbakar, mereka selalu mengandalkan parit dari kawasan gambut. Jika kering, mereka berjibaku meminta bantuan alat berat untuk menggali parit agar air bisa dikumpulkan.
Yang namannya memadamkan api di kawasan hutan, pemandangan anehnya pun selalu mereka lihat. Misalkan saja, dari jarak 100 meter, terlihat seperti anjing melintas. Tapi ternyata setelah mendekat, rupanya yang dilihat adalah beruang.
Begitu juga, kadang saat memadamkan api, tim juga ketemu satwa-satwa liar lainnya. Kadang ular, biawak, beruk. Biasanya satwa-satwa ini akan bertemu di satu titik yang sama yakni parit gambut.
"Kelau sudah kebakaran lahan, biasanya binatang itupun selalu mencari air. Kadang kita sama-sama bertemu. Kita juga tahu, kalau satwa juga butuh air ketika kebakaran melanda," cerita Nindi.
Sebelum bergabung ke tim Damkar, Nindi dan Rasmini ini bersahabat baik. Mereka ini ternyata sama-sama atlet pencak silat andalan Kabupaten Siak. Sejak SD sampai SMA, mereka ini bergelut dalam dunia pencak silat. Namun keduanya berbeda perguruan.
Tapi, keduanya ini selalu mengharumkan nama Kabupaten Siak, Provinsi Riau, bahkan Indonesia. Mereka ini juga pernah ikut Kejurnas di Surabaya tahun 2010 dan Kejurnas di Riau tahun 2012.
Begitu juga, dalam hubungan negeri serumpun, Sijori (Singapura, Johor, Riau) dalam pertandingan persahabatan, keduanya pernah meraih perunggu dan perak dalam pertandingan pencak silat.
"Kalau untuk kabupaten Siak, kami juaranya. Kalau tingkat provinsi dan nasional, kadang kami meraih perak dan perunggu," kata Rasmini.
Dengan bermodalkan atlet profesional, makanya keduanya pun diberdayakan menjadi tenaga honorer di Damkar Pemkab Siak. Sebelumnya mereka juga tidak memiliki pekerjaan tetap.
"Alhamdulilah, kami diterima sebagai honorer. Insya Allah, kalau ada lowongan CPNS kami bisa ikut kembali untuk bersaing. Harapkan kami jadi PNS," kata Nindi.
Untuk menjadi tim Damkar, sekalipun atlet pencak silat, namun seleksi tetap dilakukan. Anggota Damkar, harus terlebih dahulu mengikuti Diklat Nasional yang diselenggarakan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementrian Dalam Negeri.
Ketiga tim Damkar srikandi ini, Nindi, Rasmini dan Apriani sudah mengikuti seleksi pada tahun 2014 silam. Malah saat itu, kehadiran 3 srikandi asal Riau ini sempat mengejutkan Mendagri kala itu Gamawan Fauzi.
Ini karena saat dilakukan pelatihan pemadaman dengan cara membakar gedung lantas disuruh masuk, dan turun dengan tali dari lantai tiga, srikandi itu merupakan tim tercepat. Banyak tim mengira, bahwa mereka adalah pria.
"Pak Mendagri saat itu sampai terkejud, kalau tim Diklat dari tempat kita ada yang cewek," kata Kepala Bidang Dinas Damkar Pemkab Siak, Irwan.
Cekatannya tim Siak yang mengikuti Diklat secara nasional itu, maka Nindi terpilih sebagai yang terbaik. Kala itu, Nindi langsung menerima sertifikat Diklat dari Mendagri Gamawan Fauzi. "Alhamdulilah, waktu itu saya terbaik," kata Nindi.
Begitu pun keduanya mengaku, ketika akan bergabung di tim Damkar, orang tua mereka sempat kaget. Selaku orang tua, mereka menilai bahwa pekerjaan pemadaman bukanlah pekerjaan wanita. Lebih cocok, petugas Damkar adalah pria.
Orang tua mereka awalnya sempat melarang untuk bekerja tim pemadam. Malah disarankan, sebaiknya mencari pekerjaan yang lain saja.
"Orang tua kami sempat melarang bekerja di tim Damkar. Tapi lama-lama kami kasih pengertian, alhamdulilah, sekarang orang tua kami sudah bisa menerima anaknya bekerja di tim Damkar," kata Nindi dan Rasmini. (cha/fdn)












































