Ini Pandangan Syafii Maarif Soal Sikap Politik Muhammadiyah

Ini Pandangan Syafii Maarif Soal Sikap Politik Muhammadiyah

Muhammad Iqbal - detikNews
Rabu, 05 Agu 2015 22:16 WIB
Makassar - Tiga opsi sikap politik Muhammadiyah mengemuka dalam pidato ketua umum Din Syamsuddin di Muktamar ke-47. Yaitu Muhammadiyah tetap netral, Muhammadiyah mendirikan partai politik, atau mendukung kandidat di pemilu. Apa tanggapan Syafi'i Ma'arif?

"Muhammadiyah sudah satu abad. Dalam bacaan saya dalam beberapa sumber, selama satu abad Muhammadiyah sebagai pembantu negara yang setia. Bahkan sudah membantu sejak bangsa dan negara ini terbentuk. Cuma pada abad kedua Muhammadiyah, apakah mau semata-mata bantu? Apakah tidak mau jadi penentu," kata mantan ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu (5/8/2015).

Syafi'i mengatakan, Muhammadiyah sebagai penentu bagi negara tidak melulu terkait politik praktis apalagi mendirikan parpol seperti diwacakan Din dalam opsi keduanya. Namun bisa dalam wujud menyiapkan kader Muhammadiyah untuk menempati posisi di pemerintahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bisa saja siapkan SDM yang berkualtias tinggi, negarawan lalu diberikan kepada negara, tapi kualitasnya bisa diuji. Apa saja, tapi yang penting mereka punya wawasan kebangsaan, tahan banting," ujar tokoh yang akrab disapa Buya itu.

Menurutnya, kader berkualitas Muhammadiyah bisa dilahirkan dari perguruan tinggi Muhammadiyah yang saat ini jumlahnya 177 seluruh Indonesia di mana ada 41 yang bisa dianggap berkualitas.

"Mungin dari rahim perguruan tinggi Muhammadiyah bisa dicari, disiapkan kader untuk bangsa ini, dhibahkan kepada negara. Kalau kualitas itu sudah hebat, parpol, negara dan bangsa akan melirik," ucap tokoh yang belakangan kerap dimintai masukan oleh Presiden Jokowi itu.

Lalu apakah opsi Muhammadiyah membentuk parpol bisa diterima?

"Kalau saya, ndak. Dan Muhammadiyah berpengalaman sekali dengan parpol tidak bahagia. Perkara kader masuk parpol itu hak warga negara, biar saja. Asal kader membawa misi amar maruf nahyi munkar, jangan larut di sana," jawab Buya.

"Karena itu kalau kader Muhammadiyah masuk parpol kalau bisa secara ekonomi sudah baik dulu. Jangan masuk parpol untuk menhidupkan asap dapur," imbuhnya. (miq/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads