"Ada beberapa (rencana ke depan). Salah satunya saya ingin sekali NU mandiri secara finansial, tidak sedikit-sedikit proposal, dan itu menjadi PR kita bersama. Caranya bagaimana, tentu harus diawali dengan meningkatkan kesejahteraan warga NU, karena dengan itu Insya Allah akan mendorong kesadaran menghidupi NU, tidak nunut urip di NU," kata Said di Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8/2015).
Selain itu, KH Said mengatakan, dirinya ingin meneruskan melahirkan perguruan-perguruan tinggi NU. Dalam Laporan Pertanggung Jawabannya, dari 5 universitas yang direkomendasikan Muktamar ke-32 Makassar, dalam lima tahun terakhir sebanyak 24 Universitas dan perguruan tinggi NU sudah berhasil berdiri.
"Kalau bisa di setiap wilayah ada, bahkan jika mampu cabang silahkan mendirikan, mumpung kita diberikan kemudahan oleh Pemerintah dalam perizinan. Rumah sakit NU juga begitu, mari kita perbanyak, karena sejatinya NU didirikan untuk pelayanan sosial, memberikan perlindungan dan meningkatkan kesejahteraan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait bagaimana menempatkan NU terhadap negara, Said mengatakan bahwa NU yang pengikutnya mencapai 80 juta orang sudah diakui sebagai penyeimbang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, NU mampu seiring sejalan dengan Negara ketika Negara melindungi, mengayomi, dan mensejahterakan rakyatnya, dan sebaliknya NU siap mengkritik jika Negara abai.
"NU juga akan tetap menjalankan prinsip-prinsip Tasamuh, Tawasuth, dan Tawazun untuk menciptakan suasana harmonis dalam kehidupan bermasyarakat, dan itu diakui atau tidak menjadikan Indonesia dipandang sebagai Negara yang damai oleh dunia internasional," katanya.
"Bahkan Wapres di era Pak SBY, Pak Boediono, pernah berujar Indonesia beruntung memiliki NU. Ini terbukti karena NU mampu menjadi penengah, menjadi peredam ketika sebuah konflik muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia," urainya.
Dia menambahkan, Indonesia berbeda dengan di Timur Tengah, di Indonesia tidak ada civil society, yang ketika konflik terjadi maka senjata yang jadi penyelesaian. Menurut Said, sikap-sikap itulah yang harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan.
"Karena sesuai dengan tema Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia, itu berarti saatnya kita mengekspor gagasan-gagasan damai dalam bermasyarakat, damai dalam beragama, ke dunia internasional. Satu lagi tentang Islam Nusantara itu sendiri, yang merupakan perpaduan aqidah dan budaya," ujarnya.
"Dengan Islam Nusantara agama menjadi kuat, sementara budaya lestari, sehingga terjadi harmonisasi dalam kehidupan. Sepanjang budaya itu tidak bertentangan dengan aqidah, itu bagian dari Islam Nusantara," pungkasnya.
(idh/erd)










































