"Xinjiang juga adalah korban Islamic States," kata Direktur Jenderal Departemen Publisitas Daerah Otonomi Xinjiang Uyghur, Wang Chenghe, di Kantor Hubungan Internasional Xinjiang, 226 Donghuan Road, Urumqi, Xinjiang, Jumat (31/7/2015).
Mereka berbicara dalam kesempatan pertemuan dengan media dari Indonesia dan Malaysia. Pertemuan ini difasilitasi oleh Departemen Informasi Kementerian Hubungan Luar Negeri RRT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa waktu lalu, dia menceritakan, di sebuah stasiun televisi Tiongkok dilaporkan ada seorang siswa yang dilatih ISIS. Setelah belajar dengan ISIS, dia kembali lagi ke Tiongkok. Orang seperti ini bisa juga melintasi perbatasan secara ilegal untuk bergabung bersama ISIS. Namun jumlah mereka cuma kecil.
"Ekstrimis itu hanya ada dalam jumlah yang sangat kecil di antara rakyat kami. Kami juga mencoba yang terbaik untuk mengedukasi rakyat kami," kata dia.
Kelompok ISIS juga bisa meresahkan semua pihak di luar Tiongkok. Di Poso Sulawesi Tengah Indonesia, ada empat orang berpaspor Turki yang ternyata adalah orang Xinjiang. Mereka disinyalir melakukan aktivitas terorisme. Secara formal, memang RRT bisa memberi bantuan hukum bila mereka memintanya. Namun terlepas dari itu, bahaya terorisme harus tetap diwaspadai.
"Terorisme dan ekstrimisme adalah musuh yang harus dihadapi dunia. Masalah terorisme di Xinjiang bisa merusak Indonesia dan Malaysia juga," imbuh Deputi Direktur Jenderal Kantorย Hubungan Luar Negeri Xinjiang, Wu Guanrong.
Menurut Wu Guanrong yang juga anggota Partai Komunis Tiongkok ini, sebenarnya Xinjiang sudah belajar berkehidupan penuh toleransi sejak zaman kuno. Ada 13 suku yang menjadi penduduk asli tempat ini. Ditambah lagi, semua etnis di Tiongkok yang berjumlah 56 juga hidup di Xinjiang.
Bilapun ada masalah, itu hanya sebatas masalah selayaknya yang timbul dalam satu keluarga, bukan masalah besar, dan bisa ditangani. Namun semua itu rusak gara-gara terorisme.
"Setiap hari kami bekerja bersama. Tak ada masalah besar terkait kepercayaan agama. Namun sebenarnya (masalah besar) hanya gara-gara ekstrimis," kata Wu Guanrong. (dnu/hri)











































