"Transjakarta tidak pernah memberikan statement bahwa BBG itu buruk atau pun berbahaya. Bahkan bus yang terbaru dibeli oleh Transjakarta (Scania Euro6) sebanyak 51 unit menggunakan bahan bakar gas. Masalah kami terkait BBG saat ini lebih kepada sedikitnya jumlah SPBG dan lokasi SPBG di DKI Jakarta," kata Kosasih dalam keterangannya, Selasa (4/8/2015).
Keterbatasan jumlah SPBG berdampak pada operasional Bus TransJ. Karena itu di waktu tertentu terjadi penumpukan penumpang karena banyak bus yang sedang mengantre mengisi bahan bakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendala ini juga terjadi karena lokasi SPBG berada di daerah padat yang lalu lintasnya kerap macet. "Hal-hal ini mengurangi kemampuan layanan kami yang mengakibatkan komplain masyarakat pengguna Transjakarta," ujar Kosasih.
Sedangkan untuk bus-bus, PT TransJ ditegaskan Kosasih tidak memperhitungkan kilometer kosong akibat pengisian BBG karena mereka hanya mengisi BBG cukup 1 (satu) kali setiap harinya.
"Selain itu kami juga lebih mampu menekan waktu tunggu penumpang dan headway antar bus karena tidak ada risiko terputusnya pelayanan angkutan akibat pengisian BBG dan kemacetan di sekitar SPBG," katanya.
Saat ini TransJakarta fokus untuk menambah jumlah bus agar bisa melayani penumpang. "Pilihan jatuh pada bus BRT diesel karena pengadaannya cepat dan mudah karena sudah pernah dilakukan pengadaan bus BRT oleh Kementerian Perhubungan via e-katalog LKPP," ujarnya.
"Kami pun tidak akan melakukan pembelian bus diesel sendiri namun melalui skema jasa Rp/km layanan angkutan umum oleh operator," sebut Kosasih.
(aws/fdn)











































