Kebijakan panitia melarang peliputan sidang komisi organisasi ini berbeda dibandingkan dengan komisi lainnya seperti batsul masail atau yang digelar di luar Ponpes Mambaul Ma'arif.
Dari pantauan detikcom, Selasa (4/8/2015) penjagaan berlapis dari Banser di arena sidang komisi organisasi Rois Syuriah maupun tanfidziyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan wartawan yang ingin meliput suasana sidang komisi, juga tidak diperkenankan masuk.
"Nggak boleh," ujar orang yang berjaket banser dan tertulis nama dadanya Saleh, yang langsung nyelonong pergi.
Larangan peliputan oleh media juga dibenarkan panitia lokal Ponpes Mambaul Ma'arif bidang media dan publikasi. Bahkan, ketika ada wartawan yang sudah berada di lokasi sidang, juga diminta panitia meninggalkan arena sidang komisi.
"Instruksi dari panitia daerah, memang tidak boleh diliput, karena memang komisi ini sifatnya rahasia. Kami hanya menjalankan instruksi dari panitia daerah," ujar Abdul Basith Koordinator Panitia Lokal Pondok Bidang Media dan Publikasi.
Dari informasi yang dihimpun, rapat sidang komisi organisasi Rois Syuriah yang dimulai sekitar pukul 10.30 wib itu berjalan alot. Pasalnya, terjadi pro kontra tentang pemilihan Rois Aam PBNU melalui sistem Ahlul Halli Wal Aqdli (AHWA).
Ketua Panitia Daerah Muktamar ke 33 NU di Jombang Saifullah Yusuf mengaku belum mendapat kabar tentang alasan panitia daerah melarang wartawan meliput sidang komisi organisasi Rois Syuriah maupun tanfidziyah. Pria yang akrab disapa Gus Ipul menyampaikan masih dicek dulu.
Ketika ditanya, apakah betul alasannya tidak boleh diliput karena sidang komisi nanti akan langsung memutuskan pemilihan Rois Aam. Lagi-lagi pria asal Pasuruan yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur ini mengaku masih mengeceknya.
"Sabar, saya cek dulu," katanya melalui pesan singkat (SMS).
(roi/erd)










































