Acara HUT ICW digelar di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jaksel, Selasa (4/8/2015). Sakti ini pun dibuka oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno.
"Korupsi mengalami masa-masa menghadapi tantangan yang makin kompleks termasuk pelaku korupsi yang merambah ke generasi muda. ICW dengan sakti ini saya yakin akan sakti juga," ujar Pratikno saat membuka acara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Adios Fiso atau haram untuk menerima fiso. Sekelompok anak muda yang akan membuka bisnis restoran tapi harus bayar upeti, dia tidak mau melakukan itu," kata Pratikno.
"Mereka membangun gerakan itu didukung, meski ada korban ang meninggal, gerakan luas yang merambah di Italia. Itu kurang lebih sama, agar kita tidak mau memberikan uang untuk koruptor. Ini harus jadi movement. Nggak cukup cuma individu-individu, tapi harus jadi kultur," sambungnya.
Untuk ICW sendiri, disebut Pratikno lembaga tersebut sangat berperan untuk kemajuan negara. Ini terkait dengan kegiatan pencegahan dan pemberantasan korupsi.
"ICW sudah memberikan banyak kontribusi yang signifikan sejak usianya masih balita dalam pemberantasan anti korupsi. Pemerintah tentu sangat terbantu jika semua pihak terlibat di dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi," jelasnya.
Itu, kata Pratikno, mengingat dengan semakin canggihnya para pelaku korupsi dalam menjalankan aksinya. Untuk itu, seluruh pihak termasuk pegiat antikorupsi disebut Pratikno harus terus menerus mencari cara baru untuk menghadapi tantangan baru tersebut.
"Harus dilakukan secara bersama-sama, bersinergi dan harus terus menerus dilakukan. Semoga Sakti ini bisa menjadi virus yang terus berkembang biak di kalangan anak muda dan dapat melahirkan kegiatan antikorupsi. Semoga ICW pun bisa sukses dan terima kasih atas kontribusinya membangun bangsa ini," tutur Pratikno.
Sementara itu menurut Koordinator ICW Adnan Topan Husodo, Sekolah Antikorupsi kali ini merupakan yang kedua yang telah digelar ICW. Dari banyaknya pendaftar, hanya 20 orang yang berhasil menjadi peserta dengan seleksi yang cukup sulit.
"Ini kedua yang ICW lakukan dengan kepercayaan gerakan korupsi masih mempunyai harapan di negara ini. 20 orang yang terpilih sudah melalui proses yang tidak mudah. Dengan Sakti ini kita berharap ada kelompok muda baru yang akan merawat gerakan antikorupsi dan sebagai regenerasi," terang Adnan di lokasi yang sama.
"Kami harap kelompok baru ini akan aktif melawan praktik korupsi. ICW sendiri saat ini sudah masuk ke generasi keempat. Generasi pertama diinisiasi oleh beberapa tokoh termasuk Mas Teten," imbuhnya.
Adapun peserta Sakti ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan NTB. Mereka akan mendapat pelatihan selama 10 hari termasuk praktik tentang gerakan antikorupsi.
Akan ada beberapa tokoh yang mengisi pelatihan peserta Sakti. Seperti Bambang Widjojanto, Romo Magnis, Busyro Muqoddas, dan beberapa tokoh besar lainnya. Selain tentang hal-hal yang berkaitan dengan korupsi, peserta juga akan digembleng untuk mempelajari konsep gejala sosial di masyarakat.
Di acara HUT ICW ke -17 ini, Adnan pun juga menyampaikan harapannya. "ICW usianya kini menginjak 17 tahun, bisa dikatakan tidak muda sebagai organisasi. ICW perlu banyak kritik, masukan, refleksi untuk mendorong kampanye-kampanye korupsi yang dicanangkan dan mampu menggerakan gerakan besar untuk memberantas korupsi," tutupnya. (elz/mok)











































