"Kenapa banyak calon lari, sebab biaya Pilkada terlalu tinggi, akhirnya banyak calon yang mempertimbangkan untung rugi. Karena ketakutan uangnya nggak balik kan jadi nggak maju, apalagi menghadapi petahana yang powerfull," kata pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, kepada detikcom, Selasa (4/8/2015).
Hal ini menunjukkan betapa bobroknya demokrasi di Indonesia. Parpol juga jelas gagal melakukan kaderisasi dan gagal juga memunculkan tokoh yang dicintai rakyat dan berani bersaing dengan calon petahana yang berhasil membangun daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari itu penundaan Pilkada di 7 daerah karena hanya ada sau calon tugngal juga menunjukkan parpol gagal melakukan pendidikan politik. Nyatanya parpol diam saja saat kepala daerahnya berlarian tunggang langgang jelang pendaftaran Pilkada.
"Parpol gagal melakukan pendidikan politik, padahal seharusnya parpol melihat orang yang potensial menjadi pemimpin dan kemudian menjaring pendaftaran seluas-luasnya," pungkasnya.
(van/try)










































