4 Fenomena 'Nyeleneh' Jelang Pilkada Serentak Tahun ini

4 Fenomena 'Nyeleneh' Jelang Pilkada Serentak Tahun ini

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Selasa, 04 Agu 2015 10:11 WIB
4 Fenomena Nyeleneh Jelang Pilkada Serentak Tahun ini
Foto: Zainal Effendi
Jakarta - Tahun ini, untuk pertama kalinya Pilkada digelar serentak. Warga di 9 provinsi, 36 kota, dan 224 kabupaten, akan memilih calon pemimpinnya pada 9 Desember mendatang. Ada fenomena tak biasa jelang momen politik tersebut. Apa saja?

Pendaftaran pasangan calon pilkada digelar 26-28 Juli. Tak semua daerah memiliki bakal pasangan calon. Selanjutnya, pendaftaran tahap kedua dilakukan 1-3 Agustus. Lagi, tak semua daerah memiliki bakal pasangan calon.

Hingga pendaftaran tahap kedua ditutup, 7 daerah hanya memiliki calon tunggal. Sesuai Peraturan KPU, maka pilkada di 7 daerah tersebut ditunda hingga 2017. Berikut fenomena-fenomena 'nyeleneh' dalam proses pendaftaran:

1. Bakal Calon 'Menghilang'

Dhimam Abror di Kantor KPU Surabaya (Foto: Zainal Effendi/detikcom)
Pilkada Surabaya cukup fenomenal. Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana resmi menjadi calon tunggal. Bukan karena tak ada yang mendaftar, melainkan salah satu bakal calon penantangnya 'menghilang' dalam pendaftaran.

Dhimam Abror-Haries Purwoko yang diusung Partai Demokrat-PAN sebetulnya sempat mendaftar ke KPU Surabaya di detik-detik terakhir hari pendaftaran, Senin (3/8). Saat proses verifikasi berkas, Haries pamit keluar dari ruang pendaftaran. Ternyata ia tak balik lagi.

Ditunggu berjam-jam, Haries tak juga datang. Bahkan setelah diberi kesempatan hingga tengah malam, ia tetap tak muncul. Pendaftaran tak bisa diproses karena berkas masih kurang. Akhirnya diputuskan pilkada ditunda pada tahun 2017 mendatang.

2. Bakal Cabup Datang, Bakal Cawabup 'Bolos'

Suyatn hadir sendirian di KPU Pacitan (Foto: Purwo S/detikcom)
Di Pacitan, Jawa Timur, beda lagi. Pendaftaran tak lengkap karena Cawabup Effendi Budi Wirawan tak hadir di KPU. Padahal pasangannya, Suyatno, hadir dengan 'pasukan' lengkap, terutama dari parpol pengusung yang mengatasnamakan Koalisi Pacitan Bersatu (KPB): PDIP, PAN, dan Hanura. Hingga pendaftaran ditutup, Senin (3/8), Effendi tak kelihatan batang hidungnya.

KPU memutuskan Pilkada Pacitan ditunda karena hanya ada satu pasang bakal calon, Indartato dan Yudi Sumbogo. Pasangan ini disokong Partai Demokrat dan PPP, PKS, dan Partai NasDem.

3. Bakal Calon Saling Tunggu

Ilustrasi (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Fenomena unik terjadi di Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara (Sulut). Pada pendaftaran tahap pertama, 26-28 Juli, tak ada bakal calon yang mendaftar. Rupanya, bakal calon saling tunggu. Jika yang satu mendaftar, pasangan lain ikut mendaftar.

"Pasangan calon sudah menginfokan akan datang ke kantor KPU, tapi dia tidak mau mendaftar kalau pasangan calon satunya tidak mau daftar. Ini unik dan apa yang mau mereka lakukan pada daerah ini," kata komisioner KPU Hadar Nafis Gumay di kantornya, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (30/7).

Beruntung di hari terakhir pendaftaran tahap kedua, Senin, 3 Agustus, bakal pasangan calon mulai mendaftar. Pasangan bakal calon yang pertama mendaftar adalah Sehan Salim Landjar-Rusdi Gumalangit yang diusung PAN, Gerindra, Demokrat, PKB. Pasangan berikutnya adalah Chandra Modeon (Ketua DPC Hanura) dan Supratman Datunsolang (Ketua DPC PKS).

4. Bakal Calon Tunggal

KPUD Blitar memberi keterangan soal bakal calon tunggal (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Hingga batas akhir pendaftaran, Senin, 3 Agustus, tercatat 7 daerah yang memiliki calon tunggal. Selain Surabaya dan Pacitan, daerah lain yang hanya memiliki calon tunggal adalah Tasikmalaya, Jawa Barat, Blitar (Jawa Timur), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Samarinda (Kalimantan Timur), dan Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur).

KPU memutuskan pilkada di 7 daerah ini ditunda pada tahun 2017. Kecuali ada Perppu. Akankah Perppu soal bakal calon tunggal keluar demi menata fenomena tak biasa tersebut?
Halaman 2 dari 5
(try/van)



Berita Terkait