Ini Temuan Konyol Penyelewengan KJP: Buat Karaoke hingga Dipinjam Emak Bapak

Ini Temuan Konyol Penyelewengan KJP: Buat Karaoke hingga Dipinjam Emak Bapak

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 04 Agu 2015 09:08 WIB
Ini Temuan Konyol Penyelewengan KJP: Buat Karaoke hingga Dipinjam Emak Bapak
Foto: Rangga Sencaya
Jakarta - Aroma penyalahgunaan Kartu Jakarta Pintar (KJP) sudah tercium Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ia telah mengantongi laporan dari anak buahnya.

Pada tahun 2015, KJP diberikan kepada 489.150 siswa yang terdiri dari 291.500 siswa sekolah negeri dan 197.250 siswa sekolah swasta.Β  Siswa-siswi SD mendapatkan dana KJP Rp 210 ribu per bulan, SMP Rp 260 per bulan, SMA Rp 375 per bulan dan SMK Rp 390 per bulan.

Sejatinya dana KJP bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin siswa, seperti transportasi, uang jajan dan membeli perlengkapan seragam, sepatu serta alat tulis sekolah. Namun fakta-fakta di lapangan ditemukan adanya dugaan penyalahgunaan KJP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahok bercerita 'mata-matanya' menemukan penyelewengan KJP, salah satunya dana itu dipinjam oleh orangtua siswa. Sementara Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Bank DKI menemukan dana KJP digunakan untuk bertransaksi di tempat karaoke, membeli emas, hingga bensin. Temuan itu berdasarkan data sampling dan masih diperlukan penelitian lagi.

Menindaklanjuti temuan itu, Ahok sengaja mengunci KJP yang bersaldo Rp 1,2 juta per semester kini dibatasi pengambilannya menjadi Rp 50 ribu per minggu atau per dua minggu. Ke depan, kata Ahok, dana KJP bahkan tidak bisa ditarik satu sen pun. Ia berpendapat kebijakan ini diterapkan agar dana itu tidak disalahgunakan dan orangtua murid tidak bisa mengambilnya.

Ahok juga tidak main-main memberikan sanksi bagi oknum penyeleweng KJP, bahkan siap menjerat pelaku penyelewengan KJP dengan kejahatan perbankan. Mantan Bupati Belitung Timur ini mengimbau agar orangtua siswa penerima kartu untuk membelanjakannya sesuai kebutuhan pendidikan.


Berikut 4 temuan ini:

1. Karaoke

Foto: Rangga Sencaya
Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Bank DKI menemukan adanya penyelewengan peruntukan dana Kartu Jakarta Pintar (KJP). Diketahui dana pendidikan tersebut justru dipakai untuk bertransaksi di tempat karaoke.

"(Detailnya) tanya bank DKI, macam-macam tadi, dilaporin ke karaoke. Tapi tentu harus kita cek ulang lah. Karaoke misal Rp 47 ribu, kan nggak mungkin karaoke segitu," ujar Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budhiman usai menghadiri rapat pimpinan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (3/9/2015).

"Kita belum tahu, tidak usah tergesa-gesa," kata Arie.

2. Beli Emas dan Bensin

Foto: Rangga Sencaya
Selain itu, KJP ditemukan untuk melakukan transaksi di toko emas dan SPBU.

"(Laporannya) ada transaksi di toko emas, SPBU, dan karaoke, ini kan yang menonjol," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budhiman usai menghadiri rapat pimpinan di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Senin (3/9/2015).

Arie mengatakan, misal untuk transaksi di SPBU, tidak diketahui persis apakah dipakai membeli bahan bakar apa justru digadaikan kartunya. "Apa benar beli bensin, apa kartunya digadein, misalnya 'eh sini-sini gue beli'. Misalnya dibeli Rp 500 ribu," tutur Arie.

Temuan yang sama juga disampaikan Corporate Secretary PT. Bank DKI Zulfarshah. Dari laporan Bank DKI, KJP ada yang digunakan untuk membeli emas, karaoke, dan di SPBU hingga toko elektronik.Β  Berdasarkan informasi yang diperoleh, nilai transaksi hingga ratusan ribu rupiah.

"Itu memang benar, tapi itu kan data sampling. Total kita kan masih sampling, sekitar 20 transaksi tapi total semua harus dicek dulu. Itu nomor-nomor rekening aja, orangnya masih rahasia," ungkap Zulfarshah.

3. Dipinjam Orangtua

Foto: Rangga Sencaya
Ahok juga telah banyak mendengar penyelewengan KJP dari stafnya yang sengaja menjadi 'mata-matanya'.

"Saya sengaja taruh staf saya di ATM, keluar satu bapak-bapak dan dia marah-marah, 'kurang ajar si Ahok dulu tarik Rp 1,5 juta langsung bisa, sekarang malahan nggak bisa'. Lalu staf saya berlagak jadi orang biasa. Dia tanya kenapa? Buat apa? Bapak itu jawab, 'Iya ini kan bisa saya pakai'," terang Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (30/1/2015).

"(Staf saya nanya lagi) Terus anak kalau beli tas dan beli buku bisa dipikirin ku cari. Staf saya bilang KJP kan namanya kartu pelajar ya itu buat anak kamu. Bapak itu bilang 'Kan bisa ku pinjam dulu'. Itu kan konyol banget," lanjut dia.

Ahok memang sengaja membatasi jumlah penarikan KJP untuk anak SD senilai Rp 50 ribu per dua minggu sekali. Sedangkan anak SMP dan SMA senilai Rp 50 ribu setiap minggunya.

4. Beli HP

Foto: Ayunda Widyastuti Savitri
Ahok mengaku sengaja mengunci dana Kartu Jakarta Pintar (KJP) agar tidak mudah dicairkan. Sambil berkelakar, ia beralasan agar dana KJP tidak disalahgunakan ayah siswa untuk menikah lagi.

"Memang kita sengaja batasi supaya nggak narikin uang terus. Langsung tarik semua mah beli handphone, kawin lagi bapaknya nanti. Hehehe..," ujar Ahok sambil tertawa di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (29/7/2015).

Ahok menegaskan mesin ATM Bank DKI untuk menarik dana KJP sejauh ini tetap berfungsi normal termasuk juga mesin EDC (Electronic Data Capture) untuk menggesek KJP dalam belanja keperluan sekolah. "Bukan rusak mesinnya. Memang pas mau narik uang Rp 50 ribu banyak orangtua juga salah paham. Sekarang KJP anak SD itu cuma bisa narik Rp 50 ribu per dua minggu. Kalau SMP SMA Rp 50 ribu per minggu. Nggak rusak," jelasnya.


Halaman 2 dari 5
(aan/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads