"Saya siap seratus persen, siap dengan niat yang kuat untuk mengabdi membangun, meningkatkan, dan juga menjayakan NU," kata Asad kepada wartawan di Ponpes Bahrul Ulum, Jombang, Senin (3/8/2015).
Sebagai salah satu kandidat Ketum PBNU, Asad memiliki sejumlah visi-misi yang ingin dia wujudkan. Salah satunya adalah terkait dengan kemandirian NU sebagai ormas terbesar di Indonesia. Menurutnya, apabila NU menjadi ormas yang mandiri dan mengurangi kesenjangan ekonomi di masyarakat, maka akan berimbas pada kemandirian bangsa Indonesia dalam bidang ekonomi.
"Persoalan toleransi, radikalisme terkait dengan kesenjangan ekonomi yang lebar antara Jawa dengan luar Jawa. Ini harus diawali dengan revolusi mental, malu menjadi bangsa yang terbelakang, malu menjadi bangsa yang meminta-minta," cetusnya.
Mantan Waka BIN era Presiden Gus Dur ini menuturkan, pencalonannya sebagai Ketum PBNU bukan tanpa alasan. Dia mengaku diminta oleh beberapa kiai sepuh untuk maju sebagai kandidat Ketum PBNU. "Saya sebagai alternatif karena (kubu) ini begini, ini begini, saya dianggapnya tidak ada resistensi. Soal nanti ke depan saya serahkan kepada Alloh dan muktamirin karena mereka yang punya kuasa," tuturnya.
Meski dinilai bukan sebagai calon kuat Ketum PBNU, Asad tetap optimis bakal terpilih. Dukungan dari para ulama dari sejumlah daerah mengalir kepada dirinya. "Dukungan dari ulama Jateng sangat kuat, saya sudah kemana-mana. Ke Sulawesi, Aceh, NTT," pungkasnya.
Sampai saat ini, terdapat empat nama kandidat Ketum PBNU yang mencuat ke publik. Selain Asad Said Ali, 3 nama lainnya adalah calon incumbent Said Aqil Siradj, Salahudin Wahid, dan Muhammad Adnan. (dhn/dhn)











































