'"Ini yang terjadi mengagetkan kita semua, kita malu. Muktamar NU organisasinya para kiai terjadi kegaduhan sampai tidak bisa ditolerir, tidak bisa dimaklumi sampai segitu amat," kata Aqil saat jumpa pers di Media Center Muktamar ke 33 NU di SMAN 1 Jombang, Senin (3/8/2015).
Ia menerangkan, ketika pembahasan tata tertib pasal 14, sudah mulai muncul kegaduhan, namun berhasil diatasi. Ketika memasuki Pasal 19 tentang pembahasan pemilihan Rois Aam PBNU dengan cara musyawarah mufakat Ahlul Halli Wal Aqdli (AHWA), terjadi pro kontra antara setuju AHWA dengan voting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Said mengatakan, muktamirin yang berteriak-teriak di rapat pembahasan tatib pemilihan rois syuriah PBNU pada Minggu (2/8) malam, bukanlah Rois Syuriah cabang-cabang.
"Yang berteriak-teriak gaduh itu bukan rois syuriah cabang. Saya yakin, Rois Syuriah di cabang-cabang seluruh Indonesia tidak seperti itu. Akhlaknya tidak seperti itu bahasanya, tidak seperti itu sikapnya," tuturnya.
"Saya yakin, Rois Syuriah di cabang-cabang dan wilayah masih betul-betul dengan komitmen akhlakul karimah," jelasnya.
Kericuhan di arena muktamar NU juga menjadi perhatian pemimpin dan tokoh-tokoh nasional.
"Bahkan saya mendapatkan SMS dari jenderal, tokoh nasional, pemimpin nasional. Kenapa Muktamar NU seperti itu. Bisa nggak dikendalikan," tandasnya. (roi/rul)











































