Sejumlah manuver dilakukan oleh para kandidat. Namun yang paling kentara dilakukan oleh KH Salahuddin Wahid alias Gus Solah. Sempat ada isu adik mantan Ketum PBNU Abdurrahman Wahid itu mundur dari bursa pencalonan.
Namun kemarin Gus Solah yang kini mengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur itu membantah kabar tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan dia menjamin meski sudah berusia di atas 70 tahun masih akan mampu memimpin NU. "Jadi saya menegaskan, saya tidak mengundurkan diri. Saya sehat walafiat, walaupun sudah kepala 7, saya tetap sehat," kata dia.
Menjelang pendaftaran calon ketua umum PBNU, kubu Gus Solah pun melakukan sejumlah manuver. Berikut ini manuver yang dilancarkan kubu Gus Solah.
Sebut Ada Kader PKB Menyusup di Muktamar NU
|
Foto: Enggran Eko Budianto
|
Β
"Saya mendengar dan disinyalir ada peninjau yang disusupkan partai politik menjadi peserta. Jumlahnya ratusan untuk mempengaruhi forum dalam muktamar," kata Andi kepada wartawan di media center SMAN 1 Jombang, Minggu (2/8/2015).
Β
Andi menuturkan, partai yang diduga sengaja menyusupkan orang-orang suruhan itu adalah PKB. Partai yang saat ini dipimpin Muhaimin Iskandar itu disinyalir memiliki andil cukup besar untuk memenangkan calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU incumbent, yakni Mustofa Bisri dan Said Aqil Siradj.
Sementara Gus Solah yang turut dalam jumpa pers membenarkan adanya intrik-intrik politik untuk memenangkan calon tertentu. Salah satunya berupa pemaksaan mekanisme AHWA oleh panitia terhadap peserta untuk diberlakukan dalam muktamar kali ini.
Β
"Kita harus kedepankan akhlak karimah, NU didirikan oleh ulama yang ilmunya tinggi dan ulama yang ikhlas. Jangan kita kotori dengan praktik yang tidak sesuai ajaran Islam. Seperti money politik," kata Gus Solah.
Menuding Ada Pihak yang Main Money Politic di Muktamar ke 33 NU
|
Foto: Rois Jajeli
|
"Kita harus memperbaiki NU ke depan. NU ini aset bangsa Indonesia. NU ini organisasi yang didirkan ulama-ulama yang ilmunya tinggi dan sekaligus ulama yang ikhlas," kata Gus Solah saat jumpa pers di Media Center Muktamar ke 33 NU di SMAN 1 Jombang, Minggu (2/8/2015).
Pengasuh Ponpes Tebuireng ini menegaskan, money politic bukan dilakukan organisasi NU, tapi kemungkinan dari fungsionaris NU. Katanya, NU pelan-pelan akan kehilangan ruhul jihad.
"Sebetulnya bukan NU-nya (melakukan money politic), tapi fungsionaris. Ya pelan-pelan ini terjadi perubahan, karena perubahan situasi. Tadinya NU ormas, kemudian menjadi partai politik, balik lagi menjadi ormas kemudian tokoh-tkoh NU mendirikan partai. Paradigma partai politik harus beda dengan paradigma ormas," tandasnya
Sebut Ratusan Muktamirin Ditipu dan Ancam Polisikan Panitia
|
Foto: Enggran Eko Budianto
|
Mantan Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung yang juga pendukung Gus Solah menduga panitia telah melakukan penipuan terhadap peserta dari sejumlah PCNU saat mendaftar di GOR Merdeka Jombang.
Β
"Orang mendaftar membayar Rp 1 juta, diterima uangnya dan ada buktinya, lalu kemudian diberikan blanko kosong. Itu kan penipuan, Yang melakukan ya panitia muktamar NU. Itu terjadi, tidak kurang dari seratus PCNU yang mendapatkan blanko kosong," kata Andi kepada wartawan di media center SMAN 1 Jombang, Minggu (2/8/2015).
Β
Andi menjelaskan, blanko kosong atau kartu peserta sementara itu hanya diberikan kepada peserta yang saat mendaftar menyatakan menolak mekanisme ahlul halli wal aqdi (AHWA) untuk memilih Rais Aam periode 2015-2020. Peserta pun merasa dirugikan sebab telah membayar uang pendaftaran tersebut kepada panitia.
Β
"Kalau dia (peserta) menulis AHWA langsung diberikan kartu hijau, kartu itu sebagai alat untuk menukar dengan kartu asli yang lengkap dengan barcodenya. Kartu yang sementara tadi hanya bisa digunakan untuk masuk ke pembukaan muktamar kemarin malam. Untuk memasuki sidang-sidang ada kemungkinan tidak bisa," ungkapnya.
Menolak Sistem AHWA untuk Pemilihan Rais Aam
|
Foto: Rois Jajeli
|
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ini mengajak musyawarah, namun tidak memaksakan kehendak penerapan AHWA dalam pemilihan Rois Aam diterapkan di Muktamar ke 33 NU.
"Ayo kita musyawarah, jangan memaksakan kehendak. Bicarakan AHWA dalam sidang pleno. Tanya kepada utusan, setuju atau tidak. Saya setuju kalau dilakukan di muktamar akan datang. Tapi semua terserah muktamirin. Yang penting tidak memaksakan kehendak," kata KH Salahudin Wahid saat jumpa pers di Media Center Muktamar ke 33 NU di Jombang, Minggu (2/8/2015).
Dia menerangkan, di dalam aturan organisasi NU, tidak ada AD/ART yang mengatur tentang AHWA. "Menurut sebagian pihak, musyawarah mufakat itu artinya AHWA, tapi sebagian besar kader nggak," tuturnya.
Sebut Harga Dukungan AHWA Rp 15-25 Juta Per PCNU
|
Foto: Rois Jajeli
|
Β
"Katanya AHWA diadakan untuk menghindari money politic, nyatanya hari ini justru AHWA menjadi komoditi. Harganya Rp 15-25 juta per PCNU, siapa saja yang menyetujui AHWA ditawari uang sejumlah itu," kata pendukung Gus Solah yang juga mantan Ketua PBNU periode 1999-2010, Andi Jamaro Dulung kepada wartawan di kantor PWI Jombang, Minggu (2/8/2015).
Β
Andi menjelaskan, penerapan mekanisme AHWA untuk memilih Rais Aam PBNU di Muktamar NU ke 33 di Kabupaten Jombang sudah didesain sejak lama oleh kubu lawan. Menurutnya, kubu lawa memaksakan berlakunya AHWA untuk muktamar sejak dalam forum pra muktamar di Lombok, Makasar, dan Medan. Buntutnya adalah saat Munas di Jakarta Juni lalu, forum ulama yang tidak berwenang membahas keorganisasian dipaksakan untuk membahas dan menetapkan AHWA sebagai mekanisme memilih Rais Aam PBNU periode 2015-2020.
Β
"Yang mengerti tentang hal itu (AHWA) adalah para tanfidziyah. Tetapi tanfidziyah tidak diundang saat Munas di Jakarta, yang diundang hanya Rais Syuriah. Sehingga Rais Syuriah tidak mengerti soal dan menyetujui gagasan panitia," paparnya.
Halaman 2 dari 6











































