Sebagai tokoh yang membidangi urusan ekonomi, Anwar Abbas pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 ini kembali menegaskan gagasannya agar Muhammadiyah fokus dengan pengembangan ekonomi dan bisnis.
"Menurut saya Muhammadiyah kalau hari ini ada dua bidang yaitu pendidikan dan layanan kesehatan, harus ada bidang ekonomi dan bisnis. Bagaimana supaya Muhammadiyah ini tidak hanya mengurusi pendidikan dan layanan kesehatan tapi ekonomi dan bisnis," kata Anwar Abbas di arena Muktamar Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Minggu (2/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam teori saya, kalau negara maju yang tentukan orang kaya. Presiden Amerika memang Barrack Obama, tapi yang menentukan, kelompok kaya Yahudi. Kita ingin begitu, umat Islam jadi penentu. Tapi bukan untuk kepentingan dia, tapi bangsa dan negara," paparnya.
Sayangnya jika bicara Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, Anwar menuturkan justrudalam daftar 10 orang terkaya di Indonesia, sebanyak 9 di antaranya non-muslim. Hanya ada satu orang yang muslim.
"Penganut Islam ada 88 persen, katakan 90 persen. Mestinya 9 orang kaya itu Islam kalau pakai asas proporsionalitas. Tapi terbalik, yang 10 orang (kaya) itu yang 10 persen non-muslim. Yang 1 orang (kaya) itu dari 90 persen muslim. Ini titik lemah umat Islam," ujarnya.
Maka seharusnya organisasi Islam baik NU, Muhammadiyah dan lainnya, memperhatikan pengembangan sektor ekonomi dan bisnis secara serius, sehingga melahirkan pelaku-pelaku ekonomi yang punya peran bagi bangsa dan negara.
"Muhammadiyah punya sekolah-sekolah, dan perguruan tinggi, bisa nggak sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah itu mencetak entrepreneur sebanyak-banyaknya? Sehingga kalau 10 atau 20 tahun yang akan datang keinginan kita ke arah proporsional tadi terwujud. Dari 10 orang kaya di Indonesia, 9 orang Islam," ucap penulis buku Bung Hatta dan Ekonomi Islam itu.
"Dengan kayaknya umat Islam maka orang non-Islam terbantu," imbuh salah satu ketua MUI itu.
(bal/erd)











































