"Di Muhammadiyah sudah ada aturan dalam AD ART bahwa anggota Muhammadiyah bisa lak-laki dan perempuan," kata Abdul Mu'ti di sela-sela Muktamar di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Minggu (2/8/2015).
Mu'ti mengatakan, jika tidak ada perempuan dalam anggota tetap yang akan dipilih dalam Muktamar, maka AD ART Muhammadiyah sudah memberi ruang bagi keterwakilan perempuan di pimpinan pusat Muhammadiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketentuan itu baru diberlakukan sejak Muktamar Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta. Maka jika Muktamar telah menyepakati 13 ketua pimpinan pusat, nantinya akan ditambah satu ketua yaitu ketua Aisyiyah.
"Jadi tidak masuknya perempuan dalam Tanwir, dugaan saya karena dua hal. Pertama karena sudah otomatis ketua Aisyiyah ex officio anggota PP Muhammadiyah sehingga sudah ada perwakilan. Kedua, sudah ada organisasi otonom khusus untuk perempuan yaitu Aisyiyah. Maka tentu yang diperlukan sinergi antara Muhammadiyah dan Aisyiyah, meski tidak ada representasi untuk perempuan di Muhamadiyah." jelas
"Tapi di majelis dan lembaga banyak perempuan di dalam, sehingga Muhammadiyah lebih maju karena perempuan bisa masuk Muhammadiyah," ucapnya.
(bal/erd)











































