Muktamar itu sudah didahului oleh sidang Tanwir pada Sabtu (1/8) kemarin, dan baru saja ditutup. Tanwir itu mengerucutkan 39 dari 82 calon pimpinan pusat Muhammadiyah, serta membahas arah dan materi Muktamar.
Setelah itu, akan digelar Muktamar tanggal 3-7 Agustus untuk memilih 13 dari 39 calon pimpinan pusat Muhammadiyah. 13 nama itu nanti bermusyawarah menentukan seorang ketua umum PP Muhammadiyah pengganti Din Syamsuddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal ada banyak sekali calon pimpinan pusat Muhammadiyah. Tahap awal sidang Tanwir, ada 82 calon yang dipilih oleh 204 peserta menjadi 32 calon. Lalu tahap berikutnya, pemilihan 13 dari 32 calon oleh sekitar 3.000 peserta Muktamar.
Tahap akhir, 13 orang yang sudah terpilih bermusyawarah menentukan satu orang ketua umum PP Muhammadiyah. Pada tahap akhir ini, suara terbanyak tidak selalu jadi ketua umum.
Namun, meski begitu banyak tahapan pemilihan dalam dua forum berbeda, dan diikuti oleh ribuan peserta pemilik suara di Muktamar, tidak ada satupun gerakan dukung mendukung secara terbuka. Baik lisan maupun dalam bentuk media kampanye.
"Di sini memang nggak ada satupun spanduk atau baliho 'pilihlah aku', dukung A, B, C, karena memang prosesnya dicalonkan oleh orang lain," ucap ketua SC Muktamar Dahlan Rais kepada detikcom, Minggu (2/8/2015).
"Jadi ketika saya menerima selaku anggota tanwir, saya memunculkan sejumlah nama. Tapi tidak nama saya sendiri. Kita beri form siapa yang bapak calonkan, mayoritas hampir semuanya tidak ada yang mengisi namanya sendiri," ujar ketua PP Muhammadiyah itu.
Budaya itu kata Dahlan, berlangsung sejak lama di setiap Muktamar. Tidak hanya di tingkat calon, di tingkatan peserta yang merupakan pengurus Muhammadiyah di tingkat pusat, provinsi apalagi pihak luar, tidak ada yang berani terbuka saling mendukung.
"Di Muhammadiyah ditumbuhkan kebersamaan yang kuat. Jadi misal 13 anggota terpilih, suara terbanyak tidak mesti jadi ketua. Hal itu bisa terjadi dan bisa betul-betul legowo," ucap Dahlan.
"Jadi tidak ada rebutan (jabatan/posisi). Barangkali secara harfiah keduniaan, tidak ada yang diperdebatkan," imbuhnya.
(bal/erd)










































