"Ini bukan yang pertama, ketika Muktamar di Yogyakarta tahun 2010 juga menggunakan cara yang sama," kata Ketua Panitia Pemilihan Dahlan Rais kepada detikcom, Minggu (2/8/2015).
Sistem itu diciptakan oleh Tim dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, digunakan untuk menghitung suara hasil pemilihan untuk mengerucutkan 82 nama calon pimpinan Muhammadiyah menjadi 39 nama pada Tanwir, dan mengerucutkan lagi 39 menjadi 13 nama dalam Muktamar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Operator yang input data mahasiswa yang sudah dilatih, kemudian didampingi saksi dan panitia pemilihan. Saksi sudah ditentukan tadi (sebelum pemilhan). Sistem ini sudah dilaksanakan dan sukses di Muktamar Jogja dengan tim yang sama, tim UAD koordinatornya," papar Ketua PP Muhammadiyah itu.
Sebanyak 197 surat suara berisikan 39 daftar angka merujuk nama calon, dibagikan ke 6 operator atau kelompok. Tugas operator yaitu satu orang membacakan angka (merujuk nama calon) dan satu lagi menginputnya dalam sistem. Berikut daftar isian dalam sistem itu:
Jumlah kartu suara yang harus dikumpulkan: ... suara.
Silakan masukan nomor calon: ...
No kartu suara ...
Karu suara sah? Sah/tidak sah.
Setiap satu angka diinput, otomatis mengubah angka dalam tabulasi secara keseluruhan. Tabulasi itu juga mengurutkan perolehan suara terbanyak dari kiri ke kanan sejumlah 39 nama. Sebuah layar disipakan di depan menampilkan tabulasi tersebut. "Kalau lancar seperti ketika simulasi, dua jam selesai," terang Dahlan Rais.
Peserta Tanwir, kader Muhammadiyah atau publik bisa mengikuti secara live saat penghitungan itu digelar melalui
http://regmuktamar.muhammadiyah.or.id/voting/muhammadiyah.
"Sistemnya sudah diproteksi dengan berbagai macam kemungkinan. Kalau diperlukan ricek secara manual kalau ada kecurigaan ya ndak apa," ucap Dahlan tersenyum.
(bal/erd)











































