Terkait pemilihan Ketua Rois Aam Dewan Syuriah PBNU, Abah Anom menegaskan bahwa NU adalah organisasi Ulama, maka lebih tepat pemilihannya dilakukan sesuai sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) atau musyawarah mufakat para Ulama khos yang mumpuni dan soleh. Sistem ini menjadi amanat dalam Musyawarah Nasional (Munas) NU pada 2 November 2014. AHWA dipandang lebih Maslahat (kebaikan) dan mengurangi Mafasid (keburukan) dalam pemilihan.
Selain tidak etis, pemilihan secara voting menurut Abah Anom, sangat dikuatirkan terjadinya politik uang demi merebut jabatan itu. Sebab, belakangan ini ditengarai ada tokoh yang gencar mengkampanyekan dirinya untuk mencalonkan sebagai Ketua Rois Aam ke sejumlah daerah. Sang kiai tersebut mengandalkan dukungan dari sejumlah partai politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemilihan AHWA untuk menjaga kewibawaan NU. Kalau ada Kiai atau Ulama yang bersyahwat diriย (ambisi, red) menjadi Rois Aam, maka patut dipertanyakan keikhlasan niatnya," ujar Abah Anom.
Ia berharap PBNU ke depan bisa membangun dalam berbedaan agar ummat Islam di Indonesia menjadi kuat dan menjadi kiblat serta rujukan ummat Islam di dunia. Untuk diketahui, saat ini muncul nama calon Ketua Umum PBNU seperti KH Solahudin Wahid (Gus Solah), KH Muhammad Adnan, KH Said Aqil Siradj, dan Asaad Ali, yang saat ini menjabat Ketua PBNU dan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Sementara untuk posisi Ketua Rois Aam muncul nama KH Mustofa Bisri (Gus Mus), KH Hasyim Muzadi, juga KH Maimun Zubair (Mbak Mun). (zal/erd)











































