Yenny menjelaskan, para pemimpin NU yang akan terpilih dalam muktamar di Jombang harus mampu menjadikan organisasi kaum Nahdliyin ini sebagai jangkar kebangsaan bagi Indonesia. Selain itu, putri ke dua mantan Ketua Umum PBNU ini berharap agar NU di bawah kepemimpinan yang baru bisa menjadi payung yang menaungi seluruh elemen nusantara, menjadi penerang semua kelompok dan golongan, serta menjadi pembimbing pemerintah agar berada di jalur yang lurus.
Terkait fungsi NU sebagai payung semua golongan, Yenny menegaskan agar para pemimpin NU di semua tingkatan untuk tetap bersikap netral dalam Pilkada serentak yang akan digelar 9 Desember mendatang. Namun demikian, dia tidak keberatan dengan maraknya kader NU yang berkecimpung dalam percaturan politik di daerah hingga pusat. Hanya saja dia meminta agar mereka tidak membawa nama organisasi untuk kepentingan politik.
"Berpolitik itu bagus, tapi NU jangan ditarik-tarik ke kepentingan tertentu, baik di tingkatan parpol, Pileg, Pilkada dan lain sebagainya. Di tingkatan Pilkada NU harus bisa mengayomi semua calon. Saya berharap sikap itu terus berlanjut dalam kepemimpinan baru hasil muktamar nanti," kata Yenny kepada wartawan, Sabtu (1/8/2015).
Ditanya terkait nama calon pemimpin NU yang didukung keluarga Gus Dur, Yenny enggan menjawabnya. "Ada deh," ucap Yenny singkat. (imk/imk)










































