"Pertama haruslah utama intelek. Pimpinan Pusat Muhammadiyah harus memiliki wawasan Muhammadiyah yang luas dan mendalam. Tak cukup hanya mampu membaca ayat-ayat Alquran, tapi juga harus bisa membaca ayat kauniah," kata Din di Universitas Muhammadiyah Makassar, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Sulsel, Sabtu (1/8/2015).
Kedua, calon ketum Muhammadiyah haruslah pribadi yang merdeka, tak mudah dipengaruhi oleh kekuatan luar, khususnya kekuatan politik. Ketiga, ketum Muhammadiyah harus memiliki kemampuan manajerial yang baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat, Muhammadiyah perlu ketum yang bisa menggerakkan. Tak cukup hanya jadi super manajer, ketum Muhammadiyah juga harus bisa menjadi sang pelopor.
"Kelima, perlu memiliki relasi dan komunikasi yang luas dan baik, baik ke dalam maupun ke luar. Apalagi sekarang di Indonesia ada kekuatan-kekuatan lain. Kita perlu menjalin komunikasi, perlu bergaul," pungkas pria yang juga Ketum MUI ini.
(tor/faj)











































