Kunjungi KBRI Moskow, Kepala BNPT Bicara Soal Penanggulangan Terorisme

Kunjungi KBRI Moskow, Kepala BNPT Bicara Soal Penanggulangan Terorisme

Taufan Noor Ismailian - detikNews
Jumat, 31 Jul 2015 22:23 WIB
Kunjungi KBRI Moskow, Kepala BNPT Bicara Soal Penanggulangan Terorisme
Foto: KBRI Moskow
Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Drs. Saud Usman Nasution, S.H, MM pada 31 Juli 2015 memberikan ceramah bertajuk "Perkembangan Radikalisme dan Terorisme di Indonesia" bertempat di KBRI Moskow. Acara yang dipandu Dubes RI Djauhari Oratmangun tersebut dihadiri sekitar 50 WNI terdiri atas staf dan pegawai KBRI Moskow, para ibu Dharma Wanita Persatuan KBRI Moskow, mahasiswa Indonesia, dan masyarakat Indonesia lainnya.

Mengawali presentasinya, Kepala BNPT memuji peran penting Kementerian Luar Negeri RI khususnya jajaran diplomatnya selaku juru bicara di luar negeri mengenai keberhasilan penanggulangan terorisme dan radikalisme di Indonesia. Sebab dunia internasional telah mengakui Indonesia selaku leading actor dalam menanggulangi terorisme dan radikalisme melalui prosedur hukum, bukannya melalui penerapan pasal subversi seperti di masa lalu dan masih diterapkan di banyak negara.

Lebih lanjut Saud Usman Nasution yang pernah 12 tahun bertugas di Maluku menerangkan tentang berbagai aksi teror yang marak terjadi di Indonesia mulai era 1990-an yang terkait dengan usainya perjuangan mujahidin Afghanistan melawan pendudukan Uni Soviet maupun dengan rencana pembentukan Daulah Islamiyah yang diproklamirkan ISIS pasca jatuhnya rezim Saddam Husein di Irak dan bergolaknya Arab Spring di Timur Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Akar masalah terorisme sebenarnya akibat dendam terhadap penindasan dan ketidakadilan yang dialami Islam. Itu sebab timbul aksi terorisme yang berlandas separatisme sepertti GAM dan OPM, ideologis seperti Jamiah Islamiyah atau NII, serta etnis konflik seperti terjadi di Poso dan Ambon," tutur mantan Direktur Densus 88 Anti Teror dalam siaran persnya kepada detikcom, Jumat (31/7/2015).

Dalam penanganan aksi terorisme ini, BNPT mencatat antara tahun 2000 hingga 2014 sebanyak 950 orang terlibat tindakan terorisme, diantaranya 12 orang pelaku bunuh diri, 96 tewas di TKP, 3 dihukum mati, 349 telah divonis dan 380 orang sudah bebas. Diantara yang masih dipenjara,Β  beberapa orang diantaranya masih sangat radikal. Upaya deradikalisme dan kontra-radikalisme dilaksanakan BNPT antara lain melalui pertemuan dengan kalangan mahasiswa dan staf pengajar universitas Islam di seluruh Indonesia, mengundang ulama dari Timur Tengah, dan berbagai langkah persuasif lain termasuk meluncurkan 2 portal anti terorisme, yakni http://damailahindonesiaku.com/ dan http://jalandamai.org/.

Kepala BNPT berada di Rusia dalam rangka menghadiri pertemuan para pejabat keamanan "The XIV-th Meeting of Heads of Special Services, Security Agencies and Law-Enforcement Organizations" di Yaroslav, Rusia pada 29-30 Juli 2015. Pertemuan tahunan tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari 64 negara termasuk beberapa negara Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis serta 4 organisasi internasional yakni UN-CTITF, Shanghai Cooperation Organization (SCO), European Union (EU), dan Commonwealth of Independent States (CIS). (rvk/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads