Ini Sebab Nahdliyin Belum Bulat Soal Mekanisme Pemilihan Rais Aam

Jelang Muktamar NU

Ini Sebab Nahdliyin Belum Bulat Soal Mekanisme Pemilihan Rais Aam

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 31 Jul 2015 17:52 WIB
Ini Sebab Nahdliyin Belum Bulat Soal Mekanisme Pemilihan Rais Aam
Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Sejumlah tokoh dan peserta Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama belum sepakat soal mekanisme pemilihan Rais Aam PBNU yang menggunakan sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA). Dua kubu calon ketua umum yakni Salahuddin Wahid dan Muhammad Adnan menolak sistem AHWA.

Baru kubu petahana yakni caketum Said Aqil Siroj yang menyatakan mendukung sistem AHWA. Sejumlah pengurus wilayah dan cabang NU di Indonesia juga disebut menolak sistem AHWA tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Adnan Anwar angkat bicara terkait perbedaan sikap mengenai penggunaan sistem AHWA dalam pemilihan Rais Aam itu. Menurut dia sistem AHWA sudah disepakati dalam rapat pleno PBNU di Wonosobo pada tahun 2013 lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Waktu itu sejumlah pengurus PBNU sempat menolak, namun akhirnya menyepakati perlunya sistem AHWA untuk diterapkan kembali. Harapannya dengan sistem AHWA dapat memperkuat kembali supremasi Rais Aam PBNU.

Namun, kata Adnan, sosialisasi tentang sistem AHWA yang diakukan oleh PBNU tidak secara massif ke daerah-daerah. "Setelah diputuskan harusnya sosialisasinya dilakukan secara massif," kata Adnan melalui keterangan tertulisnya, Jumat (30/7/2015).

Sosialisasi baru intensif dilakukan menjelang digelarnya Muktamar ke-33 NU. "Upaya sosialisasi yang dilakukan oleh PBNU menjelang pelaksanaan muktamar kemarin sudah diliputi suasana saling curiga sehingga tidak bisa maksimal," kata Adnan.

Menurut Adnan, hingga menjelang pelaksanaan muktamar masih banyak pengurus wilayah dan pengurus cabang NU yang tidak menerima AHWA untuk diterapkan.

Kini PBNU menyerahkan sepenuhnya kepada peserta muktamar untuk menentukan mekanisme pemilihan Rais Aam.  Adnan meningatkan bahwa AHWA  adalah tradisi yang lama berkembang di NU.

Sistem AHWA perlu diterapkan kembali untuk memperkuat syuriyah, dalam hal ini Rais Aam. "Selain itu AHWA dimaksudkan agar tidak terjadi persaingan dalam pemilihan Rais Aam, agar tidak ada riswah dan tidak ada konflik," kata Adnan.

Apakah AHWA akan diterapkan pada Muktamar ke-33 NU?

Menurut Adnan, hal itu tergantung dari peserta muktamar. "AHWA bisa diputuskan pada muktamar kali ini. Namun apakah diputuskan akan diterapkan sekarang atau muktamar berikutnya itu tergantung muktamirin, karena muktamar adalah forum tertinggi," kata Adnan.

(erd/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads