"Sistem pemilihan Rais Aam dengan AHWA sudah tepat bahwa dengan musyawarah seperti itu NU akan memiliki dan mengembalikan NU pada khittahnya dulu," ungkap Bahrul saat dihubungi detikcom, Jumat (31/7/2015).
PMII Sleman sendiri juga telah mengirimkan delegasi untuk menghadiri Muktamar di Jombang. Meski tak ikut bersuara soal siapa yang tepat menduduki posisi di AHWA, namun menurutnya mekanisme musyawarah akan membuat NU semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu Bahrul juga menyambut baik tema Muktamar kali ini yakni tentang Islam Nusantara. Ciri khas inilah yang membuat NU lebih diterima hingga ke masyarakat di pelosok-pelosok dengan pendekatan budayanya.
"Selain musyawarah, Islam Nusantara juga terbukti yang melekatkan, yang bisa menyatukan berbagai golongan tanpa mendiskreditkan satu pun," ungkap dia.
Mekanisme pemilihan Rais Aam NU dengan AHWA menuai perdebatan jelang pelaksanaan Muktamar. Rais Aam merupakan pucuk tertinggi kepemimpinan NU sehingga proses pemilihannya cepat direspons oleh kaum nahdliyin.
Ketum PBNU Said Aqil Siroj juga mendukung mekanisme ini karena Rais Aam lebih baik dipilih secara musyawarah untuk menjauhkan dari praktik politik praktis. Tetapi Salahuddin Wahid dan Muhammad Adnan yang juga mencalonkan diri sebagai Ketum PBNU menolak AHWA karena dianggap kurang mewakili suara seluruh warga NU.
(bag/try)











































