"Kalau saya lebih senang pemilihan langsung," jawab Adnan ketika dimintai pendapat, Jumat (31/7/2015).
Kandidat doktor Undip ini berpendapat bahwa Rais Aam nantinya juga akan memilih pucuk pimpinan di daerah. Padahal para warga NU di daerah belum tentu sependapat dengan pilihan Rais Aam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai metode AHWA sebetulnya sudah dibahas sejak tahun 2012. Pada Munas tahun 2014 juga sudah dibahas soal metode tersebut yang berdasarkan Rapat Pleno tahun 2013.
Pada pleno tersebut juga dihadiri oleh (Alm) KH Sahal Mahfudh yang merupakan Rais Aam. KH Sahal meminta PBNU untuk memproses gagasan soal mekanisme AHWA.
"Jadi kalau di NU itu berbeda. Munas itu posisinya di bawah Muktamar, tidak seperti organisasi lain. Katakanlah Golkar yang menempatkan Munas sebagai yang tertinggi. Artinya apa? Apa yang dianggap paling tinggi di tempat lain itu belum tentu tertinggi di NU. Jadi walau pun sudah dibahas di Munas, belum tentu pemilihan Rais Aam nantinya pakai metode Ahlul Halli Wal Aqdi," tutur Adnan. (bag/van)











































