"Karena tensi darahnya tinggi sekali, dia dilepas pada hari Jumat. Di situlah dia kaget ketemu Gerry. Dia mengatakan kepada Gerry siapa yang kasih izin dan suruh kau ke Medan? cuma itu. Tapi pemberitaannya, mana ada tahanan bisa ngatur-ngatur di dalam, apalagi dia diisolasi," kata Johnson di KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (31/7/2015).
Pertemuan Kaligis dan Gerry terjadi saat pengacara muda itu usai melaksanakan salat Jumat di Rutan Guntur pada Jumat (17/7). Saat itu, memang di KPK tidak mengadakan salat Jumat bersama karena semua karyawan tengah libur lebaran, sehingga tahanan yang ada di rutan KPK melaksanakan salat Jumat di Rutan Guntur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Haeruddin sebaiknya tidak bicara di luar karena di luar itu bukan BAP tapi bisa jadi pengadilan sendiri bagi klien saya. Dia kan advokat, sebaiknya dia bantu Gerry untuk menjelaskannya ke BAP KPK dan mendorong KPK segera melimpahkan," jelas Johnson.
Yagari Bhastara Guntur alias Gerry memang kini mulai terus 'bernyanyi' soal peran OC Kaligis di kasus suap hakim PTUN Medan. Menurut pengacara yang sekaligus paman Gerry, Haeruddin Massaro, Kaligis pernah meminta Gerry untuk bungkam dan tak banyak bernyanyi ke KPK.
"Waktu hari Jumat, hari lebaran, Gerry lebaran ke sana (Rutan Guntur) Jumatan. Keluar dari Jumatan dipanggil bang OC 'Gerry sini kamu, itu Gerry, kantor sudah tutup, ratusan orang tidak bisa mengais nafkah lagi. Kenapa kamu enggak pasang badan aja biar saya yang tanggung biaya?' Itu Gerry ngomong sama saya," kata Haeruddin menirukan cerita Gerry, Sabtu (25/7).
Berdasarkan cerita Gerry kepada Haeruddin, Kaligis menawarkan bantuan dana kepada Gerry selama dipenjara KPK. Kaligis menurut Gerry, juga sudah 'mengamankan' berbagai barang bukti terkait kasus yang menjeratnya.
"Gerry menolak dan bilang kalau KPK sudah punya bukti rekaman dan sadapan, tapi OC meyakinkan dan bilang 'Endah (Yurinda sekretaris Kaligis) bawa itu barangnya'," jelas Haeruddin. (Hbb/hri)











































