Apabila sistem AHWA tetap dilakukan pada muktamar NU ke 33, menurut Gus Solah hal itu sangat terkesan dipaksakan. Β
"Jangan sampai sistem ini (AHWA) dipakai. Ini kan bukan hasil produk muktamar. Saya ingin seperti itu," kata Gus Solah saat berbincang dengan detikcom, Kamis malam (30/7/2015).
Sebelumnya Mantan Ketua PBNU periode 1999-2010, Andi Jamaro Dulung juga menolaksistem pemilihan Rais Aam dengan model AHWA. Dia menuding penetapan sistem AHWA sebagai langkah segelitir elit NU yang berambisi menjadi Rais Aam tanpa mau bekerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Andi, apabila sistem AHWA diterapkan untuk memilih Rais Am dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang, maka hak bersuara para pengurus NU di tingkat wilayah hingga cabang secara otomatis tereduksi.
Sistem AHWA adalah mekanisme yang diterapkan untuk memilih Rais Aam PBNU oleh 9 ulama senior. AHWA beranggotakan 9 ulama NU pilihan dengan kriteria beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah al Nahdliyah, wara', zuhud, bersikap adil, berilmu (alim ), integritas moral, tawadlu', berpengaruh, dan mampu memimpin. (baca juga: Mengenal Metode Ahlul Halli Wal Aqdi Penentu Rais Aam NU).
Kesembilan ulama itu akan dipilih oleh para peserta Muktamar NU di Jombang. Selanjutnya, anggota AHWA yang akan memilih Rais Aam periode 2010-2015 dengan cara musyawarah mufakat untuk menggantikan Kiai Mustofa Bisri alias Gus Mus.
Di Muktamar ke-33 NU inilah untuk pertamakalinya sistem AHWA diterapkan. Biasanya selama ini, Rais Aam PBNU dipilih secara langsung oleh pengurus NU di tingkat wilayah dan cabang se Indonesia. (hat/erd)











































