Saat ini kartu KJP dibuat menjadi ATM dan dananya langsung ditransfer melalui Bank DKI. Untuk bisa mengaksesnya, warga harus mengambil uang melalui ATM dan besarannya dibatasi setiap bulan. Sebagian dana dari total bantuan, harus digunakan untuk membeli peralatan sekolah anak di tempat-tempat khusus melalui sistem debet.
Namun yang menjadi masalah, lokasi tempat pembelian terbatas dan harganya yang jauh di atas pasaran. Hal tersebut dikeluhkan oleh ibu-ibu warga Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jaktim, yang melakukan audiensi dengan Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA) di Jl Panca Warga IV, Kalimalang, Kamis (30/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bersama sang anak datang untuk membeli peralatan sekolah di lokasi yang telah ditentukan Pemprov DKI yakni di Jakbook dan Edu Fair 2015 di Parkit Timur Senayan pada Selasa (28/7) lalu. Ayu pun harus pulang dengan tangan kosong.
"Abisnya kesel. Di sana umpel-umpelan. Udah gitu kalau mau bayar (mesin debet) offline terus. Saya dari siang sampai mau magrib di sana nggak dapat apa-apa. Kalau beli di pasar kan nggak harus jauh-jauh ke Senayan. Di sana buku paket harganya Rp 50 ribuan. Kalau di Jatinegara udah ongkosnya nggak mahal, harga buku paket juga cuma Rp 20 atau Rp 30 ribuan," tuturnya.
Nasib serupa juga dialami oleh Ibu Siti. Sambil menangis di hadapan forum, ia bercerita sulitnya membeli sepatu dengan KJP. Baru hari ini ia mengetahui bahwa ternyata di Kramatjati, warga Jakarta Timur bisa membeli peralatan sekolah dengan menggunakan fasilitas bantuan Pemprov itu.
"Saya naik busway ke sana bareng ibu-ibu yang lain abis sekolah anak. Sampai sana jam 12 siang kepentok istirahat jadi nunggu dulu jam 13.00 WIB baru buka. Pas buka itu penuh banget. Antrean banyak. Saya beli sepatu buat anak udah antre panjang, tinggal 2 antrean lagi dari depan eh mesinnya nggak bisa (offline). Saya 3 jam udah antre," curhat Siti sambil sesekali menghapus air matanya.
Akhirnya Siti hanya membelikan tas dan pensil warga untuk sang anak. Ia juga mengeluhkan pelayanan dari pihak toko yang tidak ramah.
"Seharian di sana cuma bisa beli tas harga Rp 125 ribu sama pensil warna Rp 75 ribu. Harganya mahal, tasnya begini doang. Udah gitu pelayanan tokonya kurang bagus, kita kayak ngemis-ngemis jadinya. Apa karena kita dapat bantuan jadi kesannya kita yang butuh," ucap Siti sedih.
"Ini mah bukan Kartu Jakarta Pintar tapi Kartu Jakarta Pusing," timpal salah seorang warga, Ibu Yati, disambut ibu-ibu lainnya.
Ketua FAKTA, Azas Tigor Nainggolan menilai perlu ada perbaikan dalam mekanisme dan sistem pemberian KJP ini. Ia juga memberi saran, ada baiknya sistem bantuan tersebut dipermudah mengingat sasaran bantuan dari kalangan menengah ke bawah yang kurang memahami teknologi.
"Ini ibu-ibu beli tas polo-poloan harganya Rp 250 ribu di toko yang bisa pakai KJP. Saya contohkan ini barusan beli di Mangga Dua sama harganya cuma Rp 60 ribu. Rekomendasi kami Ahok melakukan evaluasi, diubah mekanismenya," kata Tigor di lokasi yang sama.
"Sudahlah nggak usah repot gini. Yang penting sekolah gratis. Lebih baik bantuan disalurkan lewat cara lain. Buku bacaan dipinjamkan atau dikasih. Saat daftar ulang di sekolah baju seragam diberikan gratis, sepatu dan perlengkapan lainnya juga," tutupnya. (ear/dra)











































