"Saya berangkat dari Yogyakarta 10 Juni lalu," kata Yudi saat ditemui di kawasan Kalimalang, Kamis (30/7/2015).
Yudi melalukan aksi ini karena tidak mau permainan enggrang nantinya hanya tinggal cerita saja. Makanya dia menolak jika dianggap aksinya kategori nekat atau hanya mencari sensasi semata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditemui, Yudi terlihat memakai pakaian hitam khas Yogya. Sebuah sarung dililit di lehernya. Tas gemblok yang ada di punggungnya diisi pakaian serta peta ukuran besar yang sering dia jadikan alas tidur maupun alas solat.
Dia memilih jalur pantura untuk bisa mencapai Jakarta. Selama perjalanan, dia pun tidak luput mengajak masyarakat yang dilewati untuk ikut melestarikan permainan khas Indonesia.
"Saya senang, selama di jalan, banyak juga anak-anak muda yang dukung saya," sambung Yudi.
Kini perjalanannya sudah hampir menyentuh garis finish. Dalam waktu yang tidak lama, dia bakal bisa tiba di Istana Negara, tempat Jokowi tinggal.
Yudi bertekad harus bisa bertemu Jokowi, bagaimana pun caranya. Bahkan sejak dari Yogya pun dia sudah mempersiapkan proposal pengajuan bertemu Jokowi.
Dia berharap Jokowi mau mengeluarkan pernyataan penegasan permainan enggrang adalah milik Indonesia. Hanya itu, tidak ada niat lain. Jika sukses, enggrang hasil modifikasinya yang selama ini ditumpangi, akan dilelang.
Uangnya untuk membuat enggrang-enggrang serupa yang bakal diserahkan ke seluruh wilayah yang pernah dia lewati dalam perjalananya ke Jakarta.
"Harus bisa ketemu Jokowi. Saya pamit ke istrinya itu pergi 3 bulan kok ke Jakarta," tandasnya. (mok/try)










































