Tongkat Ulama Pendiri NU Hingga Seragam Banser Dipajang di NU Expo

Jelang Muktamar Ke-33 NU

Tongkat Ulama Pendiri NU Hingga Seragam Banser Dipajang di NU Expo

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 29 Jul 2015 20:23 WIB
Tongkat Ulama Pendiri NU Hingga Seragam Banser Dipajang di NU Expo
Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - NU Expo yang digelar di Stadion Merdeka Jombang turut meramaikan pergelaran Muktamar NU ke 33. Di lokasi ini, dipajang sejumlah koleksi benda-benda bersejarah milik warga Nahdliyin. Salah satunya tongkat kayu yang biasa dipakai oleh tokoh pendiri NU, Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

Setidaknya terdapat empat benda bersejarah koleksi Museum NU Surabaya yang dipamerkan dalam NU Expo sejak 25 Juli-5 Agustus. Di antaranya tongkat Kiai Abdul Wahab Hasbullah, seragam Banser Riyanto, Kiswah dari Makkah, serta Keris NU.

Guide Museum NU Surabaya yang menjaga stand di NU Expo, Saifudin mengatakan, keempat koleksi yang dipamerkan kali ini, selain memiliki nilai sejarah yang tinggi juga menunjukkan nilai kemanusiaan, nilai keluhuran, dan menunjukkan kebesaran nama NU di mata dunia. Seperti keris NU yang dibuat oleh Empu Fanani dari Singosari, Malang tahun 2006 silam.

Keris yang terbuat dari baja hitam itu bertuliskan lafal arab dari emas murni. Selain itu, beberapa sentimeter di atas gagang yang terbuat dari kayu berukir, terdapat simbol Nahdlatul Ulama yang juga terbuat dari emas. "Tujuan pembuatan keris ini sebagai ikon kekuatan dan keemasan NU," tuturnya kepada detikcom, Rabu (29/7/2015).

Tongkat tokoh pendiri NU, Kiai Abdul Wahab Hasbullah juga dipamerkan dalam NU Expo ini. Tongkat dari kayu ini senantiasa dibawa oleh ulama dari PP Tambak Beras itu selama memimpin NU. "Tongkat ini peninggalan dari Kiai Wahab sendiri. Semasa hidup beliau, tongkat ini sebagai alat bantu berjalan," imbuh Saifudin.

Seragam Banser yang telah usang terlihat bertengger di stand Museum NU. Namun tak sembarang seragam. Pakaian bermotif loreng yang sudah compang-camping itu dipakai oleh anggota Banser asal Kota Mojokerto, Riyanto saat menjadi korban ledakan bom natal di Gereja Eben Heizer tahun 2000 silam.

Riyanto yang kala itu bertugas menjaga keamanan malam Misa Natal, rela berkorban dengan membawa keluar bom yang diletakkan teroris di dalam gereja. Akibat keberaniannya itu, dia tewas seketika terkena ledakan bom tersebut.

Koleksi Museum NU lainnya yang dipajang dalam pameran ini berupa potongan kain Kiswah, yakni kain penutup Ka'bah. Menurut Saifudin, kain berwarna hitam ini terbuat dari kain sutera. Tulisan arab yang melekat pada kain tersebut terbuat dari benang emas murni.

"Kain ini diberikan oleh pemerintah Arab Saudi kepada NU sebagai bentuk penghargaan. Ini menunjukkan kebesaran nama organisasi NU di mata internasional," ungkapnya.

Meski tak banyak koleksi benda bersejarah yang dipajang dalam pameran ini, lanjut Saifudin, setidaknya bisa ikut meramaikan Muktamar NU ke 33 di Jombang. Dengan pameran ini pihaknya juga berharap bisa memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa NU merupakan organisasi yang menorehkan sejarah panjang di Indonesia.

"Apabila masyarakat ingin mengetahui lebih banyak bisa mengunjungi Museum NU di Surabaya. Kami memiliki ratusan koleksi benda-benda bersejarah terkait dengan NU," pungkasnya.

Muktamar NU ke 33 bakal berlangsung di Kabupaten Jombang 1-5 Agustus mendatang. Rapat akbar pengurus NU itu akan memilih Ketua PBNU dan Rois 'Aam yang baru masa khidmat 2015-2020. Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan menghadiri pembukaan muktamar di Alun-alun Jombang. (mok/faj)


Berita Terkait