"Tujuan kami sama, hanya saja cara yang berbeda. Sejak dahulu begitu. Tujuan sama yaitu ingin membangun Islam yang berbudaya dan berkemajuan, tetapi cara yang ditempuh berbeda. Kalau di kami tetap mempertahankan tradisi nusantara, tak pernah meremehkan atau meminggirkan budaya. Kalau Muhammadiyah menekankan pada reformasi. Terkadang memang reformasi menggunakan cara yang tegas, sementara kalau di NU lebih dengan pendekatan kultural," ujar Said Aqil saat berbincang di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2015).
Tentu mengenai sinergi akan dilakukan seperti yang ada selama ini. Sehingga tujuan bersama tersebut akan tercapai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai peran, selama ini NU ikut aktif dalam kegiatan sosial seperti ketika ada bencana alam dan lain sebagainya. Bidang pendidikan dan kesehatan juga dijalani oleh NU.
"Harapan kita untuk bangsa ini, mari saling toleran, mari kita junjung tinggi perbedaan etnis, agama, suku, budaya itu adalah pilar bangsa. Kalau itu masih dipermasalahkan, hancur RI ini seperti timur tengah nantinya. Kita harus ingat keberadaan kita ini sangat beragam maka harus ada kesepakatan, maka junjung tinggi kebinekaan," kata Said.
Dia kemudian bercerita bagaimana ketika NU ikut mendamaikan massa yang menolak pembangunan gereja HKBP di Bekasi, Jawa Barat. Ketika itu massa FPI melakukan penolakan dan mengakibatkan korban luka, kata dia.
"Saya datang ketika kejadian waktu itu. Saya bilang kepada mereka itu begini, 'bapak-bapak, HKBP tidak akan mengkristenkan bapak-bapak sekalian karena ini adalah gereja Batak. Mereka sembahyang pakai bahasa Batak, sehingga tidak mungkin bapak-bapak ini dikristenkan', setelah itu mereka baru mengerti dan menyudahi konflik," ujar Said.
Menurut dia perpecahan dan kesalahpahaman harus diselesaikan dengan baik-baik tanpa harus ada kontak fisik. Bangsa Indonesia ditantang untuk mampu hidup berdampingan dengan segala perbedaan dalam damai.
"Oleh karena itu tema Muktamar kali ini adalah Meneguhkan Islam Nusantara, artinya islam yang toleran dalam keberagaman ini sebagai peradaban Indonesia. Kita ditantang bisa enggak hidup bersama? Mari kita hidup bersama, bisa beda agama, beda suku, beda budaya tak jadi penghalang," kata dia. (bag/van)











































