Testimoni Faisal Basri Soal Dasep 'Mobil Listrik', Inovator yang Jadi Tersangka

Testimoni Faisal Basri Soal Dasep 'Mobil Listrik', Inovator yang Jadi Tersangka

Rista Rama Dhany - detikNews
Rabu, 29 Jul 2015 17:13 WIB
Testimoni Faisal Basri Soal Dasep Mobil Listrik, Inovator yang Jadi Tersangka
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Kejaksaan Agung kemarin menahan Dirut PT Sarimas Ahmadi Pratama, Dasep Ahmadi. Dia ditahan terkait kasus dugaan korupsi 16 mobil listrik. Pembelaan datang dari rekannya, Faisal Basri.

Di laman blognya, Faisal menulis testimoni soal Dasep dengan judul: Inovator Jadi Tersangka. Ekonom UI sudah kenal lama dan menyebut Dasep sebagai sosok nasionalis sejati. Dasep juga disebut ingin melihat Indonesia maju lewat akselerasi industrialisasi.

"Beragam komponen otomotif sudah dia hasilkan. Dengan darah dan keringat, nyaris tanpa bantuan pemerintah," tulis Faisal di laman pribadinya, seperti dikutip, Rabu (29/7/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Faisal menyebut, Dasep di awal perjuangannya tak mendapat dukungan pemerintah, namun malah kerap 'diganggu'. Dengan keterbatasan industri penunjang, Dasep berjibaku bersaing dengan komponen otomotif impor yang bebas bea masuk. Padahal, komponen yang dihasilkan Dasep butuh bahan baku impor yang dikenakan bea masuk sekitar 5 persen sampai 15 persen. Ia pun harus membayar PPN impor dan PPh bayar di muka. Berarti, Dasep harus menyediakan modal kerja lebih banyak ketimbang importir. Modal kerja yang Dasep pinjam dari bank bunganya belasan persen.

"Kalau Dasep hendak melindungi produknya agar tidak gampang dijiplak, ia harus mendaftarkan produknya agar dapat hak paten. Belum lagi kalau hendak mendapatkan SNI. Semua pakai ongkos yang tidak murah. Butuh waktu yang lama pula," tulis Faisal lagi.

Menurut Faisal, kebijakan pemerintah sungguh sangat menyulitkan industriawan sejati seperti Dasep. Kebijakan pemerintah lebih mendorong perkembangan pedagang atau importir. Namun Dasep maju terus. Ia melangkah hendak menghasilkan mobil buatan dalam negeri, mobil listrik. Impiannya bersambut. Dahlan Iskan, yang waktu itu Menteri BUMN, mendukung gagasannya. Pembiayaan didukung oleh beberapa BUMN.

Meski begitu, hasilnya jauh dari sempurna, masih jauh dari produksi komersial. Baru sebatas uji coba.

Faisal pun mengutip pemberitaan media tentang penyidik Kejaksaan Agung yang menyebut mobil listrik Dasep tak kuat menanjak dan cepat panas. Faisal menilai, hal itu terlalu dini untuk disimpulkan. Sebab, untuk membuat mobil listrik yang baik, butuh waktu dan dana tak sedikit.

"Ia kemarin ditahan oleh Kejaksaan Agung. Apa aparat kejaksaan Agung tidak pernah nonton laga F1 yang pembalap-pembalapnya sering mengalami berbagai macam masalah mesin sampai ban sehingga harus keluar dari sirkuit. Padahal mobil-mobil itu dibuat oleh pabrik mesin atau pabrik mobil terkemuka di dunia. Miliaran dollar dihabiskan untuk menghasilkan mesin-mesin atau mobil-mobil terunggul lewat riset bertahun-tahun tanpa henti. Demikian juga mobil pada umumnya, apalagi mobil listrik yang mash tergolong langka," paparnya.

"Dasep hanya menghabiskan Rp 2 miliar per mobil. Sekali mencoba harus jadi sempurna. Dasep bukan malaikat. Nasionalisme yang menggebu membuat ia menerima tantangan menghasilkan mobil listrik. Ia tidak mencari untung dari proyek mobil listrik yang menjeratnya," tulisnya lagi.

Di akhir tulisannya, Faisal menyatakan Dasep layak dibela. Walau dia tak setenar tokoh lain, namun Faisal tak akan diam saja mengingat status Dasep kini menjadi tersangka dan ditahan.

Dasep saat ditahan kemarin mengatakan dirinya tak bersalah. Namun dia akan tetap menghadapinya.

"Tentu saja saya merasa tidak bersalah. Bagaimana pun proses hukum ini, akan saya hadapi untuk membuktikannya," kata Dasep sebelum memasuki mobil tahanan yang bakal mengantarnya ke Rutan Salemba cabang Kejagung. (mad/ndr)


Berita Terkait