Rais Aam Dipilih Secara Musyawarah, PBNU: Islam Tak Kenal One Man One Vote

Jelang Muktamar ke-33 NU

Rais Aam Dipilih Secara Musyawarah, PBNU: Islam Tak Kenal One Man One Vote

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 29 Jul 2015 17:09 WIB
Rais Aam Dipilih Secara Musyawarah, PBNU: Islam Tak Kenal One Man One Vote
Foto: Situs Resmi NU
Jakarta - Pemilihan Rais Aam sangat menentukan gerak Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia. Berbeda dengan pemilihan Ketum PBNU yang melalui voting, Rais Aam ditentukan lewat musyawarah mufakat.

"Sesuai dengan AD/ART Rais Aam dipilih melalui musyawarah mufakat atau voting. Jadi pemilihan musyawarah tak melanggar. Hanya selama ini musyawarah tak pernah dilakukan tapi selalu voting. Musyawarah ini islami karena dalam islam tak mengenal one man one vote. Khulafaurasyidin terpilihnya dengan musyawarah, bukan voting," tutur Ketum PBNU Said Aqil Siroj saat berbincang di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2015).

Pemilihan Rais Aam secara musyawarah akan dilakukan oleh Ahlul Halli Wal Aqdi yang beranggotakan para Kiai senior NU. Saat ini ada 39 nama calon Ahlul Halli Wal Aqdi dan akan dipilih 9 orang di antaranya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi Rais Aam bisa dipilih dari Ahlul Halli Wal Aqdi itu atau pun dari luar itu. Mereka boleh memilih salah satu dari mereka sendiri atau juga dari luar," kata Said.

Menurut dia selama ini metode pemilihan dengan voting tak menjamin terpilihnya pemimpin yang baik. Tak jarang pemimpin daerah yang terpilih hanya menang suara terbanyak, tetapi tidak berkualitas dan bahkan tersangkut kasus.

"Di partai politik juga ada beberapa yang menggunakan musyawarah seperti PKB, Gerindra, Demokrat, PDIP. Kalau PKS jangan ditanya, sejak dahulu mereka musyawarah," sebut dia.

Secara terpisah SQ pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta KH Noer Muhammad Iskandar berpendapat bahwa Rais Aam memang harus dipilih dari kalangan Kiai NU yang terpandang. Oleh karena itu mekanisme pemilihannya tak boleh sembarangan dan hanya untuk politik praktis saja.

"Rais Aam adalah pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama, wadah para alim ulama. Sebagai pemimpin tertinggi, maka Rais Aam harus dijaga dipegang oleh seorang ulama' sepuh yang wirai atau zuhud dunia dan mumpuni keilmuan agamanya. Demikian pula sistem pemilihannya harus menjaga Marwah Rais Aam terpilih. Pada Muktamar ke-32 di Makassar, pemilihan Rais Aam secara terbuka ternyata memiliki dampak negatif, sangat vulgar, antar kyai sepuh 'dipertandingkan' berhadap-hadapan. Sangat miris kalau mengingat saat itu," tutur Kyai Noer.

Menurut dia banyak kiai NU yang telah paripurna dalam urusan dunia, tetapi figur Rais Aam juga harus memiliki ketegasan. Rais Aam nantinya memiliki legitimasi untuk mengeluarkan perintah dan dijalankan oleh para warga NU. (bag/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads