Saat berkeliling pada 3 SMK di Tangerang, Mendikbud Anies menemukan ada 2 SMK yang menugaskan siswa barunya membawa kotak susu bubuk ukuran 400 gram. Anehnya, kotak susu bubuk hanya satu merek.
"Saya curiga, kenapa dari sekolah sebelumnya saya menemukan adanya bungkus kardus susu. Kalian diwajibkan membeli atau bagaimana?" tanya Anies ke murid-murid di SMK Yuppentek, Tangerang, Banten, Rabu (29/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalian untuk mendapatkan kotak susu ini berarti harus dengan cara membeli dengan harga Rp 40.000, kalian tahu berapa kotak kalian dihargai? Berapa? Hanya Rp 1,700 per kotaknya. Praktik-praktik komersial seperti ini yang merendahkan derajat pendidikan, jika kalian jual barang maka jual dengan harga yang bagus bukan malah harga yang lebih murah," papar Anies.
Menurutnya, praktik-praktik perdagangan ini bukan merupakan sektor dari pendidikan di sekolah. Terkait hal itu ia meminta untuk tidak ada lagi kegiatan seperti ini terjadi di masa orientasi selanjutnya.
Mendikbud Anies memerintahkan Irjen Kemdikbud untuk segera menyelidiki siapa orang yang terlibat di balik kasus jual-beli pada saat orientasi siswa baru di sekolah. Ia menduga mungkin juga praktik semacam ini terjadi di daerah lain.
"Mendikbud mempersilakan jika ada perusahaan yang ingin membantu pendidikan, tapi harus dengan cara yang baik, jangan dengan merendahkan dunia pendidikan," tegas Mendikbud.
Mendikbud Anies kembali mengingatkan kepada seluruh guru, kepala sekolah hingga dinas pendidikan se-Indonesia untuk mengawasi pelaksanaan masa orientasi peserta didik berlangsung agar tidak menjadi ajang kekerasan dan balas dendam yang berkelanjutan di dunia pendidikan.
"Ini peringatan kepada seluruh pihak terkait, agar jangan coba macam-macam masuk ke dunia pendidikan. Diikuti bukan karena rasa takut, tapi ikuti karena Anda melakukan yang benar. Tradisi yang tidak baik wajib dihentikan, tugas kalian di sini untuk belajar, bukan untuk dipermainkan," pungkasnya.
Halaman 2 dari 1











































