Caketum PBNU Gus Solah, Cendekiawan 'Darah Biru' Pesantren dan Pejuang HAM

Jelang Muktamar ke-33 NU

Caketum PBNU Gus Solah, Cendekiawan 'Darah Biru' Pesantren dan Pejuang HAM

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Rabu, 29 Jul 2015 12:53 WIB
Caketum PBNU Gus Solah, Cendekiawan Darah Biru Pesantren dan Pejuang HAM
Foto: Danu Damarjati
Jakarta - Nama Gus Solah atau Salahuddin Wahid disebut-sebut sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU. Gus Solah merupakan cucu dari pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari.

Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (29/7/2015) sosok Gus Solah memang tak bisa dilepaskan dari para tokoh besar NU. KH Wahid Hasyim merupakan ayahnya dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah kakaknya. Sehingga tak salah jika menyebut dirinya sebagai 'darah biru' NU.

Kini Gus Solah merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menggantikan pamannya yakni KH Yusuf Hasyim. Meski saat ini lebih banyak beraktifitas di pondok, tetapi Gus Solah masih aktif menulis berbagai hal di media massa sampai media sosial twitter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Wasit Indonesia dihukum 30 bulan di Singapura karena penyuapan terhadap XI Timor Leste. Di RI banyak penyuapan (sport, politik, hukum) tidak tersentuh," cuit dia lewat akun @Gus_Solah pada 22 Juli lalu.

Selain aktif di pondok pesantren memang Gus Solah juga tak asing di dunia politik Indonesia. Dia pernah menjadi anggota MPR RI dan mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingi Wiranto di tahun 2004 yang saat itu dicalonkan oleh Golkar dan PKB.

Saat itu Gus Solah mengajukan persyaratan kepada Golkar yang meminangnya bahwa posisi Wapres harus mendapat tugas khusus dalam penegakan HAM dan pemberantasan korupsi. Syarat itu diamini tetapi pasangan tersebut tak lolos ke putaran kedua karena hanya menduduki peringkat ketiga.

Kemudian pada Pemilu lalu, Gus Solah pun menggagas 'Konvensi Capres Rakyat'. Konvensi itu digelar pada Hari Pahlawan tahun 2013 yang dia ketuai dengan anggota komite diisi oleh Adnan Buyung Nasution, Natan Setiabudi, Jaya Suprana, Frans Magnis-Suseno, Ichlasul Amal, Aristides Katoppo, serta Sekretaris Komite, Rommy Fibri.

"Konvensi rakyat diharapkan bisa melahirkan pemimpin sejati yang benar-benar mengerti apsirasi rakyat serta bisa membawa negara ini menuju negara sejahtera," kata Gus Solah saat deklarasi di Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat, Minggu (10/11/2013).

Mengenai penegakan HAM, pria kelahiran 11 September 1942 tersebut memang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM. Gus Solah juga tergabung dalam Tim Khusus Kasus Pelanggaran HAM di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

Di bidang pendidikan, arsitek ITB ini memang mengawali karir sebagai konsultan teknik. Dari situ kemudian dirinya tergabung dalam Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Pada tahun 2000-2005 Gus Solah menjabat sebagai Ketua MPP ICMI dan kemudian menjadi Anggota Dewan Penasihat organisasi tersebut. (bag/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads