Rona dan Geliat Kaum Sarungan di Jagat Maya

Jelang Muktamar ke-33 NU

Rona dan Geliat Kaum Sarungan di Jagat Maya

Triono Wahyu Sudibyo - detikNews
Rabu, 29 Jul 2015 11:21 WIB
Rona dan Geliat Kaum Sarungan di Jagat Maya
Foto: Website Muktamar NU
Jakarta - Sejak dulu, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki brand kelompok keagamaan tradisional. Tapi di era digital, mereka beradaptasi. Ormas yang dikenal sebagai kaum sarungan ini 'hidup' di dunia maya.

Situs resmi NU adalah nu.or.id. Website ini dikelola laiknya media massa umum. Tampilannya tidak 'tradisional'. Content-nya beraneka warna, mulai berita kegiatan organisasi hingga fatwa.

Badan dan lembaga otonom NU juga memiliki website. Misalnya, Muslimat NU, Maarif, GP Ansor, Fatayat, dan lain sebagainya. Mereka mengupdate kegiatan dan menyampaikan beragam aspirasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di level daerah, sebagian besar pengurus NU tak mau ketinggalan. Mereka mengelola website tersendiri. Ada yang aktif, ada yang slow dalam mengupate lamannya.

Website-website tersebut, dari pengurus besar (PBNU) hingga level daerah, ditautkan dengan dengan twitter, facebook, dan sosial media lain.

Khusus untuk muktamar, NU membuat website beralamat muktamar.nu.or.id. Pengelola menyajikan informasi, agenda, dan struktur panitia. Laman tersebut dilengkapi video dan rekaman suara kegiatan. Cukup komprehensif untuk meng-cover kegiatan yang berlangsung 1-5 Agustus 2015 mendatang di Jombang, Jawa Timur.

Untuk pertama kali, NU menerima pendaftaran peserta secara online. Hingga Selasa (28/7) pada pukul 10.30 WIB, jumlah pendaftar mencapai 2.179 orang. Namun untuk mengakomodasi peserta yang kesulitan akses internet, cara manual tetap dilakukan. Peserta bisa registrasi secara langsung di arena muktamar.

"Dengan pendaftaran online, kita sudah cukup tertolong (untuk persiapan)," kata Ketua Panitia Muktamar NU Imam Aziz, Selasa (28/7/2015).

Melihat laman-laman berlabel NU, terasa organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu terus bergeliat. Terutama ketika anak-anak muda mulai berkiprah. Kader NU boleh saja dicap tradisional dan suka sarungan (atau bersarung), tapi cara berorganisasinya up to date. Mereka berbaur dengan zaman, memanfaatkan teknologi untuk meneguhkan jati diri, dan pada saat yang sama tetap memegang tradisi yang jadi ciri khasnya. (try/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads