"Prinsipnya di NU itu pengabdian, dan mengabdi bisa dengan menjadi atau tidak menjadi pengurus NU. Oleh karenanya, siapapun yang maju dalam pemilihan Ketua Umum, maka harus siap menang sekaligus siap kalah," kata Said Aqil dalam siaran persnya, Selasa (28/7/2015).
Sejauh ini beberapa nama sudah meramaikan bursa calon Ketua Umum PBNU. Selain Kang Said, ada nama mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) As'ad Said Ali, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH. Sholahuddin Wahid, dan mantan Ketua PWNU Jawa Tengah, Muhammad Adnan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya mengenai pesaing terkuat dalam Muktamar nanti, Said mengaku tidak ingin menjadikan Muktamar sebagai ajang persaingan. Said juga berpesan untuk setiap kandidat untuk menggunakan cara-cara yang santun dalam pencalonannya, termasuk menghindari politik uang. Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Jombang, tempat di mana NU dilahirkan, harus menjadi introspeksi bersama untuk menjadikan Muktamar yang damai tanpa adanya gejolak sosial apapun.
"Saya yakin Pak As'ad maju juga karena niat mengabdi kepada NU, termasuk Gus Sholah dan Pak Adenan. Karenanya tidak tepat jika disebut persaingan, apalagi permusuhan," ujarnya.
NU akan menggelar Muktamar ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada tanggal 1 sampai 5 Agustus mendatang. Empat pondok pesantren menjadi lokasi bersama forum permusyawaratan tertinggi di NU tersebut, yaitu Tambak Beras, Tebuireng, Denanyar, dan Peterongan. (rvk/rvk)











































