"99,9 persen penyebab karhutla adalah disengaja (dibakar) untuk pembersihan lahan dan peluasan perkebunan," ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo di Graha BNPB, Jl Pramuka Raya, Jaktim, Selasa (28/7/2015).
Berdasarkan pantauan satelis Modis (Terra-Aqua), hingga pukul 07.00 WIB pagi tadi, sudah terdapat 148 hotspot atau titik panas di Sumatera. Rinciannya adalah 55 di Sumsel, 45 di Riau, 35 di Jambi, 9 di Bangka Belitung, dan 4 di Lampung. Kemudian ada 45 hotspot di Riau, 9 di Bengkalis, 8 di Dumai, 1 di Meranti, 4 di Pelalawan, 4 di Kampar, 2 di Rohul, 3 di Kuansing, 9 di Inhil, dan 4 di Inhu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski jumlah karhutla tahun 2015 lebih sedikit dibanding tahun lalu, BNPB terus melakukan upaya penanganan. Sebanyak Rp 385 milyar disiapkan BNPB untuk permasalahan ini dan siap ditambah dari Dana Siap Pakai jika diperlukan.
"BNPB menyiapkan 10 helikopter water bombing. Bersama BPPT juga menyiapkan 3 pesawar untuk melakukan operasi hujan buatan. BNPB sudah menyiapkan anggaran Rp 15 m untuk pembangunan sekat kanal seperti yang diperintahkan Presiden Jokowi kepada Menteri LHJ namun belum dilakukan karena terkendala administrasi daerah," jelas Sutopo.
Untuk teknologi modifikasi cuaca, upaya sudah dilakukan 2 kali. Pada 22 Juni lalu dengan pesawat CN-295 TNI AU, tim sudah menaburkan 52 ton garam ke dalam awan di sekitar Riau. Kemudian di Sumsel pada pertengahan bulan lalu 19 ton garam disebar di daerah Sumsel. Sementara itu 1 pesawat juga disiapkan untuk hujan buatan di Jambi, Kalbar atau Kalteng. Itu sesuai permintaan dari pemda dan direncanakan minggu depan beroperasi.
"Lebih dari 70 persen kebakaran terjadi di luar kawasan hutan. Ada 10 provinsi langganan Karhutla yaitu Aceh, Sumut, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsem, Kaltim, dan Kaltara. Yang paling parah karhutla setiap tahun di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel," tutur Sutopo.
Dari data 2006-2014, pola hotspot di Sumatera dominan terjadi pada pertengahan Juni-Oktober selama 5 bulan. Sementara di Kalimantan selama 4 bulan pada Juli-Oktober. Karhutla ini, kata Sutopo, juga merupakan salah satu dampak dari kekeringan.
"Dengan adanya El Nino moderate sekarang maka ancaman karhutla berpotensi hingga awal Desember 2015. Sebenarnya kunci penanganan karhutla adalah penegakan hukum," terangnya.
Penyelesaian masalah karhutla menurut Sutopo bisa dilakukan dengan cepat. Bahkan pada Mei-Juni 2013 dan Maret-April 2014, karhutla dapat dipadamkan hanya dalam waktu 2 minggu. Namun itu membutuhkan kerjasama semua pihak.
"Pada Mei-Juni 2014 asap menyebabkan protes dari pemerintah Singapura. Kita kirimkan 2.500 tentara dari Jakarta, dalam 2 minggu tidak ada lagi kebakaran hutan, tapi begitu kita tarik lagi prajurit ke Jakarta, kebakaran ada lagi," ujar Sutopo.
"Ada juga tim pemburu pakai heli ada yang dari kepolisian. Begitu lihat ada pelaku langsung turun. Pernah ada yang ketangkap tangan, mereka ngaku disuruh. Terkadang memang ada pembiaran dalam kasus ini. Kuncinya semua bekerja secara total. Antisipasi lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman," tutupnya. (ear/rvk)











































