Wawancara Walhi Jawa Barat
Peringatan Kami Tidak Digubris
Rabu, 23 Feb 2005 13:31 WIB
Jakarta - Sebanyak 137 orang tewas dan puluhan lainya masih hilang akibat longsornya gunung sampah di Cimahi, Bandung, Jawa Barat. Padahal baik Pemkot Cimahi maupun Pemkab Bandung sudah diperingati untuk mengantisipasi kejadian ini.Senin (21/2/2005) agaknya menjadi hari yang bakal sulit dilupakan warga yang tinggal di dekat Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) di desa Leuwigajah, Cireunde, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sekitar pukul 02.00 WIB ketika sebagian besar warga tertidur lelap, setelah didahului ledakan keras, gunung sampah di dekat pemukiman mereka tiba-tiba longsor. Ribuan kubik sampah itu menerjang dan mengubur segala yang ada.Direktur Walhi Jawa Barat, Denny Jasmara, mengaku sangat prihatin atas kejadian tersebut. Menurut Denny, sebenarnya peristiwa tersebut bisa dihindarkan jika semua pihak, terutama Pemkot Cimahi dan Pemda Bandung, tidak sembrono dan mengabaikan aspek pengelolaan sampah yang memadai.Menurut Denny, sejak awal dibangun pada tahun 1987, TPA Leuwigajah itu tidak menggunakan sistem open damping dan sistem slope. Artinya ada satu kemiringan yang mengakibatkan sampah menjadi padat, sehingga arahnya semakin ke depan dan akhirnya membentuk tebing yang terjal. Akumulasi dari keadaan itu menyebabkan air masuk melalui celah sampah dan mengakibatkan keretakan pada tebing tanah. Kondisi ini akan menyebabkan masa tebing jenuh dan hilang kestabilan.Denny menegaskan dalam beberapa kesempatan Walhi Jawa Barat sudah menyampaikan hal tersebut, baik kepada Pemkot Cimahi maupun Pemkab Bandung. Namun entah mengapa, peringatan Walhi yang berasal dari penelitian sejumlah ahli itu, seperti dianggap angin lalu.Hal tersebut disampaikan Denny saat berbincang-bincang dengan detikcom melalui telepon, Selasa (21/2/2005). Saat itu, Denny mengatakan dirinya tengah berada di lokasi kejadian ikut membantu proses evakuasi para korban. Berikut petikan wawancara lengkap detikcom dengan Denny Jasmara.Pendapat Anda tentang peristiwa ini?Lokasi itu sangat rentan sekali terjadi bencana. Ada hasil kajian dari para akademisi mengenai musibah ini. Dan itu sudah disampaikan kepada Pemda Kabupaten Bandung, dan Pemkot Cimahi beberapa bulan lalu. Tapi ternyata respon dari pemerintah sangat lambat padahal mereka sudah mengetahui dan sudah diperingatkan untuk mengantisipasi bahwa akan terjadi longsoran.Mengapa pemerintah tidak merespon peringatan tersebut?Sepertinya karena permasalahan birokrasi, pendanaan dan lain sebagainya.Sampai sekarang, hingga sampai kejadian ini, tidak ada tindakan riil dari pemerintah.Siapa yang bersalah dalam peristiwa ini?Kalau kita berbicara siapa yang salah, semua punya andil cukup besar. Kita memang belum punya kesadaran sampai pada tingkat pribadi. Sampah organik itu seharusnya bisa dikelola sendiri-sendiri tanpa membebani satu wilayah lainnya. Kota Cimahi juga menerima sampah dari kota dan Kabupaten Bandung. Hal lain paling tidak Pemkab Bandung melakukan relokasi terhadap masyarakat yang bermukim di bawah lokasi TPA.Kemampuan TPA Leuwigajah mengelola sampah?Tidak mampu. Ini terbukti dengan kejadian sekarang. Sampah-sampah yang berasal dari kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi ternyata tidak diolah. Jadi hanya menyerahkan sampah-sampah itu kepada pemulung-pemulung saja.Bukannya TPA Leuwigajah memiliki alat pengolahan sampah?Memang di lokasi TPA itu ada alat-alat tradisional untuk mengelola sampah-sampah tersebut. Tetapi alat-alat itu hanya untuk pembuatan kompos dan jumlahnya tidak besar hanya beberapa persen. Padahal informasi terakhir bahwa saat ini ada sekitar 6 jutaan kubik sampah di TPS itu. Seharusnya ada kebijakan, yang walaupun tidak modern, tapi mampu mengelola sampah ini dengan baik.Misalnya?Pengelolaan di tingkat keluarga merupakan alternatif yang terbaik. Perlu diketahui bahwa Singapura saja tidak bisa melaksanakan teknologi insenerator, apalagi kita.Jadi yang terjadi di TPA Leuwigajah?Sampah di sana hanya menumpuk lalu didorong dan digiring ke jurang, padahal banyak pemukiman di bawahnya. Sampah-sampah itu didorong agar tidak menghambat truk-truk yang masuk. Ini dilakukan sejak awal, alasannya karena lokasi TPA itu tidak terlalu luas.Penempatan Leuwigajah sendiri sebagai TPA sudah tepat?Bandung memang tidak cocok untuk tempat pembuangan akhir sampah. Walau kita memakai sanitary land fill yang intinya adalah sistem pemadatan, itu ternyata tidak cocok. Karena sampah itu tidak dapat dipadatkan walaupun dilindas-lindas dengan buldoser. Apalagi sampah plastik, kondisi itu sangat rentan sekali menimbulkan kejadian longsor. Kedua, lindi yaitu zat cair yang berasal dari sampah yang jelas akan mencemari air permukaan. Apalagi dengan topografi Bandung yang berbukit-bukit.Bagi korban sendiri apa yang bisa dilakukan?Masyarakat punya hak untuk melakukan gugatan sampai tingkat class action. Kemungkinan kedua, bisa saja tuntutan dilakuan oleh lembaga NGO. Kalau diminta kita siap mendampingi masyarakat dengan cuma-cuma. Class action perlu dilakukan untuk me-warning pemerintah agar tidak melakukan lagi kelalaian yang lain.
(djo/)











































